• Selasa, 29 November 2022

Studi: Risiko Penyakit Jantung dan Stroke Meningkat Setelah Infeksi COVID-19

- Minggu, 20 Maret 2022 | 15:12 WIB
Ilustrasi - Penelitian sebutkan risiko penyakit jantung meningkat setelah terinfeksi COVID-19. (Vecteezy)
Ilustrasi - Penelitian sebutkan risiko penyakit jantung meningkat setelah terinfeksi COVID-19. (Vecteezy)

SINAR HARAPAN - BANYAK hal tentang COVID-19, terutama efeknya dalam jangka panjang, masih menjadi misteri hingga saat ini. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan infeksi COVID-19 dapat meningkatkan risiko masalah jantung hingga satu tahun setelah infeksi seperti dilansir dari Nature.

 

Studi yang dilakukan The St. Louis Veterans Affairs mengamati 153.760 pasien COVID selama setahun dan membandingkan hasil tersebut dengan lebih dari 11 juta veteran dari sebelum dan selama pandemi yang tidak pernah menderita COVID.

Hasil penelitian menunjukkan bahkan kasus ringan COVID dapat meningkatkan risiko masalah jantung lama setelah pulih dari infeksi virus tersebut. Hal ini mencakup peningkatan 20 masalah kardiovaskular yang berbeda mulai dari stroke, pembekuan darah hingga serangan jantung.

Baca Juga: Studi: Hati-hati, Batuk Berikut pada Bayi dan Balita Bisa Jadi Gejala Infeksi Omicron

Dari data kasus stroke, pada kelompok non-COVID, sekitar 7 dari setiap 1.000 orang mengalami stroke. Pada kelompok COVID, setelah sembuh, sekitar 10 dari setiap 1.000 orang mengalami stroke. Data ini tidak banyak orang secara keseluruhan, tetapi menunjukkan peningkatan 48% dalam risiko stroke, menurut data penelitian.

Data ekstensif juga menunjukkan, semakin parah COVID, semakin tinggi risiko masalah jantung di kemudian hari. Risiko stroke bagi mereka yang dirawat di rumah sakit karena COVID meningkat lebih dari 300%, dan risiko bagi mereka yang dirawat intensif karena COVID meningkat lebih dari 430%.

“Itu, bagi dokter, berarti kita tidak bisa mengandalkan faktor risiko konvensional saat berbicara dengan pasien,” kata Dr. Tanya Melnik, internis di Klinik Pasca-COVID di M Health Fairview. “Kami benar-benar harus melihat seberapa parah penyakit mereka.”

Baca Juga: Dunia Hampir Endemi, Negara Ini Malah Baru Alami Penyebaran COVID-19 di Komunitas

Studi ini juga memperhitungkan ras, jenis kelamin, merokok, usia dan faktor lainnya. Data penelitian berasal dari 2019, sebelum vaksin tersedia.

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: Nature

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X