• Minggu, 2 Oktober 2022

Waspada Kencan Online di Era Dgital

- Rabu, 9 Februari 2022 | 11:42 WIB
Ilustrasi kencan online.
Ilustrasi kencan online.

JAKARTA - Membangun relasi intim dengan orang lain merupakan salah satu hal yang wajar dan menjadi keinginan banyak orang. Memang, bukan hal mustahil kita bisa menemukan pasangan yang cocok melalui aplikasi kencan online. Namun kita perlu memerhatikan perilaku hingga perasaan yang kita alami saat menggunakan aplikasi tersebut.

Sebuah riset menyebut sebanyak 5 persen dari pasangan yang menikah bertemu dengan pasangannya melalui aplikasi kencan online. Namun, 1 dari 3 pengguna aplikasi kencan online justru tidak pernah bertemu secara langsung dengan teman kencannya.

Fenomena mengenai kencan online bukanlah hal yang baru. Terlebih di era digital, saat kemudahan bisa didapat hanya dengan meng-click atau melakukan swipe dari komputer dan ponsel. Hanya dengan memasang foto terbaik di profil dan menuliskan sejumlah hal menarik tentang diri sendiri, kita dapat mengetahui bila ada orang lain yang tertarik untuk menjalin hubungan lebih lanjut dengan kita.

Melalui ketertarikan yang diungkapkan oleh sesama pengguna, kita dapat mulai berkomunikasi dengan orang tersebut. Bukan tidak mungkin komunikasi akan berlanjut di media sosial lain hingga pertemuan di dunia nyata.

Ada berbagai macam alasan yang mendasari orang-orang untuk menggunakan aplikasi kencan online. Mulai dari adanya rasa penasaran tentang cara menggunakan aplikasi kencan online, sekadar menambah kenalan, atau memang yang benar-benar serius ingin mencari pasangan. Kendati fenomena ini sudah marak, tentunya mencari pasangan dari kencan online memiliki “sensasi” yang berbeda dibandingkan dengan cara lain, misalnya lewat kenalan teman atau dijodohkan orangtua.

Menjelang hari kasih sayang, Valentine, publik disuguhkan tontonan film dokumenter "Tinder Swindler". Film ini mengupas aksi penipuan yang dilakukan Simon Leviev kepada teman kencan yang dia temui melalui aplikasi kencan online.

Kaspersky dalam survei "Mapping a secure path for the future of digital payemnts in APAC" yang diadakan 2021, Rabu (9/2/2022) menemukan hampir satu dari dua orang (45 persen) orang di Asia Tenggara kehilangan uang karena penipuan dari kencan online.

Jumlah kerugian yang diderita kurang dari 100 dolar Amerika Serikat, namun, penipuan meski kecil-kecilan ini dialami oleh berbagai kelompok usia.

Generasi baby boomer (kelahiran 1946-1964) dan di atasnya (1918-1945) paling sering menjadi korban penipuan kecil-kecilan ini, mencapai 33 persen. Rata-rata penduduk Asia Tenggara yang pernah menjadi korban penipuan kurang dari 100 dolar AS berjumlah 22 persen.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X