• Jumat, 27 Mei 2022

Fenomena Long Covid-19, Ini Gejala & Cara Penanganannya

- Senin, 11 Oktober 2021 | 09:10 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA - Fenomena long COVID-19 merupakan gejala bagi penyintas (pasien yang pernah mengalami dan sembuh) COVID-19. Gejala tersebut pada umumnya, yaitu demam, kehilangan penciuman dan pengecapan, batuk berkelanjutan, sesak nafas, nyeri dada, peradangan jantung, sakit perut, kesemutan, ruam pada kaki, lupa, depresi, sakit kepala, kelelahan, telinga berdengung hingga nyeri otot dan diare.

Dr. dr. Isnin Anang M, Sp.P(K), FCCP, FISR, FAPSR, dokter spesialis paru dari Siloam Hospitals Surabaya mengatakan, timbulnya gejala long COVID-19 diakibatkan oleh rusaknya jaringan tubuh oleh virus sehingga terganggunya respon pada imun dan kondisi psikologis. 

"Pascainfeksi akut dari virus COVID-19, terjadi kerusakan endotel dan inflamasi pada jaringan paru. Umumnya terjadi pada latihan dan riwayat memori traumatis akan penyakit yang berat juga perawatan yang lama di rumah sakit", tutur dokter Dr. Isnin Anang membuka edukasinya yang bertajuk "Kenali long COVID-19 dan penanganannya", pada Jumat 8 Oktober 2021 melalui aplikasi Zoom. 

Disebutkan pula pada edukasi, mengacu pada  data Kementerian Kesehatan RI, untuk  pasien COVID-19 selama 1 bulan sekitar 53,7% pasien mengalami gejala long COVID-19 merupakan pasien perokok, 43, 6% pasien selama 1 sampai 6 bulan mengalami gejala akut long COVID-19 dan sebanyak 2,7% pasien selama lebih dari 6 bulan pasien  berusia lanjut.

Hal lain yang signifikan selain mekanisme imunologis adalah rasa ketakutan akan penyakit COVID-19. Ketakutan akan masa depan yang tidak menentu, stigma, dan memori traumatis akan penyakit yang berat serta isolasi sosial. Disebutkan pula, penyakit Insomnia merupakan penyakit yang umum diderita pada masa pemulihan. Ada pula faktor penyebab seperti nyeri kepala yang dilaporkan banyak terjadi pada pasien terinfeksi COVID-19 akut maupun saat pemulihan. 

"Hal ini dapat terjadi karena adanya multifaktor, yaitu karena stres dan rasa cemas terkait pandemi dan penyakit COVID-19. Perubahan Irama sirkadian dan masih ada gejala pernapasan sisa COVID-19 (batuk, sesak), serta efek respon imun terhadap infeksi COVID-19 secara langsung maupun jangka panjang," ungkap Isnin Anang pada edukasi bincang sehat tersebut. 

Lalu, apa yang menyebabkan nyeri kepala pada pasien COVID-19? Menjawab hal ini yang ditanyakan viewer pada edukasi tersebut, Dr. dr. Isnin Anang M, Sp.P(K), FCCP, FISR, FAPSR, dokter spesialis paru dari Siloam Hospitals Surabaya mengatakan, mekanisme yang mendasari nyeri kepala terkait Covid-19 adalah SARS-CoV invasi yang langsung ke saraf trigeminal di cavum nasal.

"Dan di otak, ACE2 terdeteksi banyak pada neuron. Gangguan regulasi ACE2 terjadi karena SARS-Cc meyebabkan rasa nyeri," tutur Isnin Anang.  

Penanganan

Halaman:

Editor: editor4

Tags

Terkini

X