Jaksa KPK Cecar Miryam S Haryani

Rabu , 09 Oktober 2019 | 13:57
Jaksa KPK Cecar Miryam S Haryani
Sumber Foto merdeka.com
Miryam S Haryani

JAKARTA - Mantan anggota DPR Miryam S Haryani dicecar jaksa KPK soal pertemuannya dengan mantan anggota DPR Markus Nari di kantor PT Mata Group di Gedung Multika Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jaksa mencecar Miryam soal apakah ada perintah untuk mencabut keterangan di sidang kasus e-KTP atau tidak.

Jaksa awalnya menanyakan apakah Markus pernah datang ke kantor Miryam atau tidak. Menurut Miryam, Markus cuma sekali datang ke kantornya.

"Apakah Pak Markus pernah datang ke kantor Anda?" tanya jaksa KPK dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (9/10/2019).

"Iya seingat saya sekali," kata Miryam.

Miryam mengaku lupa apakah pertemuan itu sedang menjadi saksi perkara kasus korupsi proyek e-KTP Irman dan Sugiharto. Namun, dirinya yang menawarkan Markus Nari untuk datang ke kantornya.

"Waktu ngobrol beliau seorang teknik sipil terus iseng saja boleh dong rancangin sesuatu, terus datang ke kantor saya," Miryam menjelaskan seperti dikutip detik.com.

"Pertemuan anda dan terdakwa ada omongan nanti anda cabut keterangan saksi?" tanya jaksa kembali.

"Tidak ada," ucap Miryam.

Jaksa juga mencecar Miryam mengenai pertemuan dengan Anton Taufik di kantor Elza Syarief. Dalam pertemuan itu, jaksa bertanya apakah Miryam membawa berita acara pemeriksaan (BAP) saat bertemu Anton Taufik.

"Bawa BAP waktu itu?" tanya jaksa.

"Tidak pernah," jawab Miryam.

Dalam sidang ini, Markus Nari didakwa merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Jaksa KPK menyebut Markus sengaja mencegah atau merintangi pemeriksaan di sidang terhadap Miryam S Haryani yang saat itu berstatus sebagai saksi dan Sugiharto yang kala itu berstatus sebagai terdakwa.

Selain itu, Markus juga didakwa memperkaya diri sendiri USD 1.400.000 dari proyek e-KTP. Perbuatan Markus juga memperkaya orang lain dan korporasi, akibatnya, negara mengalami kerugian Rp 2,3 miliar dari perbuatan Markus.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load