Saran Pakar soal Nasib Kelanjutan PPKM yang Ditentukan Hari Ini

Senin , 18 Oktober 2021 | 10:53
Saran Pakar soal Nasib Kelanjutan PPKM yang Ditentukan Hari Ini
Sumber Foto: Pikiran Rakyat.
Ilustrasi.

JAKARTA - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2, 3, dan 4 diperpanjang sejak 5 Oktober hingga hari ini, Senin (18/10/2021). Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyebut strategi PPKM perlu dilakukan hingga status pandemi dicabut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meski tren COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan perbaikan saat ini.

"Itu adalah satu strategi penjaga untuk mengendalikan leveling pengendalian pandemi, pada leveling terus terkendali, yaitu PPKM level 1," ungkap dia Senin (18/10/2021). Dicky menjelaskan pemerintah dan masyarakat perlu bersikeras menurunkan PPKM ke level 1. Sebab, di level 1 semua aktivitas sebetulnya sudah boleh berjalan seperti biasa, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Tak boleh terus di Level 3 dan 4
"Salah kalau PPKM-nya terus di level 3, 4, dan 2. Ini yang salah, jadi semuanya harus mengarah ke level 1, kalaupun memburuk ya paling level 2," sebut Dicky.

PPKM level 1 diartikan Dicky sebagai kondisi saat pandemi COVID-19 sudah terkendali. Karenanya, ada aktivitas yang diperkenankan beroperasi hingga 100 persen. Meski begitu, Dicky menyarankan bagi perusahaan yang bisa melakukan pekerjaan dari rumah, untuk lebih memilih work from home.

"Karena kalau pandemi belum berakhir, cakupan vaksinasi belum tercapai secara global, ya kita akan selalu dalam kondisi terancam, Strategi menjaga tren COVID-19 terus membaik hanya dengan meningkatkan cakupan vaksinasi, mengevaluasi kualitas testing, tracing, hingga treatment dan tidak lengah dalam menjalankan protokol kesehatan ketat.

Dosis pertama tembus 50 persen
Kabar baiknya, cakupan vaksinasi di Indonesia sudah melampaui 50 persen untuk dosis pertama per Kamis (15/10/2021). Ada 105.464.686 atau 50,64 persen dari sasaran vaksinasi. Sementara vaksinasi COVID-19 kedua baru mencapai target 29,48 persen dari lebih 200 juta orang sasaran. (E-4)



Sumber Berita: Detik.com.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load