Pakar Bencana Sarankan PPKM Level 4 Diperpanjang

Minggu , 01 Agustus 2021 | 16:42
Pakar Bencana Sarankan PPKM Level 4 Diperpanjang
Sumber Foto: RRI.co.id.
Ilustrasi.

JAKARTA - Pakar bencana menyarankan agar PPKM level 4 yang berakhir pada 2 Agustus diperpanjang. Kawasan di luar Pulau Jawa-Bali harus menjadi fokus penanganan Corona.

Mulanya, guru besar bidang sosiologi bencana dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Prof Sulfikar Amir menjelaskan bahwa memang saat ini kasus Corona di Jawa-Bali cenderung menurun. Dia menilai Jawa-Bali telah mendapat efek dari PPKM darurat hingga PPKM level 4.

"Kalau kita lihat Jawa-Bali ada kecenderungan turun. Walaupun Bali itu masih kritis. Lalu Provinsi seperti Jakarta jumlah kasusnya tampak menurun cukup signifikan, Jawa Timur saya nggak terlalu yakin, sama Jawa Tengah. Jawa Barat cukup menurun. Tapi secara keseluruhan Jawa-Bali ini bisa dibilang sudah merasakan PPKM darurat hingga level 4 ini," kata Sulfikar Amir kepada wartawan, Minggu (1/8/2021).

Kendati demikian, dia menyarankan pemerintah tidak melakukan pelonggaran pembatasan yang terlalu cepat. Pasalnya, secara agregat kasus Corona harian masih tinggi.

"Saya menyarankan pemerintah tidak melakukan pelonggaran terlalu cepat. Karena secara agregat jumlah kasus hariannya masih tinggi. Walaupun ada daerah yang menurun. Tapi daerah-daerah terkoneksi satu sama lain. Jadi ketika ada satu daerah yang menurun, dia akan naik lagi ketika ada pelonggaran," ungkapnya.

Dia mengatakan pemerintah harus fokus dalam penanganan di luar Pulau Jawa-Bali. Sebab, beberapa daerah di luar Jawa-Bali fasilitas kesehatannya sangat terbebani.

"Concern di luar Jawa-Bali. Di Papua, Kalimantan dan Sumatera, jadi fasilitas kesehatannya sudah sangat berat. Jadi ada kenaikan status daruratnya. Jadi harus seperti level 4 di Jawa-Bali," tuturnya. Selain itu, dia mendorong agar pemerintah melakukan pengetatan pembatasan di luar Jawa-Bali. Mobilitas orang dari luar Jawa-Bali juga harus diperketat.

"Saran saya luar Jawa-Bali ini diperketat pembatasannya. Dan saat bersamaan, orang-orang di luar Jawa mobilitasnya harus dibatasi sangat ketat. Supaya kasusnya tidak kembali ke Jawa," jelasnya. (E-4)



Sumber Berita: Detik Health.

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load