Pandu Riono: Indonesia Menuju Jebakan Pandemi

Sabtu , 31 Juli 2021 | 19:16
Pandu Riono: Indonesia Menuju Jebakan Pandemi
Sumber Foto Dok/Istimewa
Epidemiolog Pandu Riono

JAKARTA--Pakar epidemiologi asal Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebut Indonesia sedang menuju jalur jebakan pandemi yang semakin dalam.

Hal ini ia sampaikan di akun Twitternya pada 30 Juli 2021. “Indonesia menuju Pandemic Trap!” tulisnya.

Ia menjelaskan saat ini Indonesia belum mempunyai target yang jelas untuk menyelesaikan kapan berakhirnya Pandemi Covid-19.

Pandu Riono mengingatkan kepada Presiden Jokowi agar jangan melakukan pengetatan yang responsif. Tapi, harusnya mencegah hal dan antisipasi agar lonjakan kasus Covid-19 tak terjadi.

“Pengetatan Kegiatan Penduduk (Lockdown) berdampak buruk bila terlambat dilakukan dan dalam situasi panik karena lonjakan sdh bikin RS semaput. Jadi pak@Jokowi, jangan lakukan pengetatan yg responsif tapi untuk cegah dan antisipasi agar lonjakan tidak terjadi. KPC-PEN tak berguna,” tulisnya.

Pandu Riono mengusulkan agar beri kesempatan sistem kesehatan publik siap dengan mewajibkan pakai masker dan 3M, memperkuat tes, tracing dan isolasi yang benar serta menggenjot Vaksinasi Covid-19 dengan prioritas.

Pak @jokowi Indonesia itu melakukan Lockdown- Pembatasan Aktifitas Penduduk. Itu pilihan sementara, bukan permanen. Untuk beri kesempatan agar sistem Kesehatan Publik siap, wajibkan pakai Masker dan 3M. Wajib perkuat Tes-Tracing & Isolasi yg benar. Genjot Vaksinasi dg prioritas," tulisnya, seperti dikutip Kompas TV

Sementara itu politikus PDIP Effendi Simbolon menyalahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak mau menerapkan lockdown sejak awal pandemi COVID-19.

"Pemerintah sejak awal tidak menggunakan rujukan sesuai UU Karantina itu, di mana kita harusnya masuk ke fase lockdown. Tapi kita menggunakan terminologi PSBB sampai PPKM. Mungkin di awal mempertimbangkan dari sisi ketersediaan dukungan dana dan juga masalah ekonomi. Pada akhirnya yang terjadi kan lebih mahal ongkosnya sebenarnya, PSBB itu juga Rp 1.000 triliun lebih ya di tahun 2020 itu," ujar Effendi kepada wartawan, Sabtu (31/7/2021).

"Presiden tidak patuh konstitusi. Kalau dia patuh sejak awal lockdown, konsekuensinya dia belanja kan itu. Sebulan Rp 1 juta saja kali 70 masih Rp 70 triliun. Kali 10 bulan saja masih Rp 700 triliun. Masih di bawah membanjirnya uang yang tidak jelas ke mana larinya. Masih jauh lebih efektif itu daripada vaksin," sambungnya.

Dikutip dari detikNews.com, Effendi membeberkan sudah banyak negara lain yang sukses mengatasi pandemi COVID-19 dengan cara lockdown. Dia mengatakan virus Corona itu bisa dicegah penularannya dengan cara semua orang tetap berada di rumah.

Hanya, kata Effendi, alih-alih memilih lockdown, Indonesia justru menerapkan PPKM. Effendi menyatakan hasil dari PSBB hingga PPKM hanya '0' dan cenderung minus.

"PPKM ini dasarnya apa? Rujukannya apa? Arahan Presiden? Mana boleh. Akhirnya panik nggak karuan, uang hilang, habis Rp 1.000 triliun lebih. Erick Thohir belanja, Menkes belanja. Dengan hasil 0. Minus malah. Ini herd immunity karena iman saja," tukas Effendi.

 

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load