Sinovac-Pfizer Butuh Booster, Bagaimana Vaksin AstraZeneca?

Jumat , 30 Juli 2021 | 11:23
Sinovac-Pfizer Butuh Booster, Bagaimana Vaksin AstraZeneca?
Sumber Foto: Tatler Malaysia.
Ilustrasi.

JAKARTA - CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, mengungkapkan bahwa vaksin Corona ketiga atau vaksin booster belum memiliki dasar ilmiah yang jelas. Ia juga tidak yakin bahwa vaksin booster itu bisa menciptakan kekebalan lanjutan yang lebih kuat melawan COVID-19.

Soriot menjelaskan vaksin AstraZeneca telah memproduksi sel imun yang cukup tinggi. Ini berarti vaksin seharusnya mampu melawan infeksi COVID-19 dalam jangka waktu panjang.

"Ada dua dimensi kekebalan. Pertama, antibodi (yang) menurun seiring waktu, tetapi dimensi kedua yang sangat penting dari vaksinasi adalah apa yang disebut sel-T. Mereka cenderung melindungi orang dari penyakit parah dan juga memberikan daya tahan," jelas Soriot yang dikutip dari CNBC International, Jumat (30/7/2021).

"Dengan teknologi yang kami gunakan, kami memiliki produksi sel-T yang sangat tinggi. Kami berharap, kami bisa memiliki vaksin yang tahan lama untuk melindungi untuk jangka waktu yang lama," lanjutnya. Soriot mengatakan, untuk memastikan apakah vaksin booster diperlukan adalah dengan melihat kemanjuran vaksin menurun seiring waktu. Sampai saat ini, pihaknya mengaku belum melihat adanya penurunan efikasi yang bisa mempengaruhi vaksin besutannya.

"Kami tahu bahwa (vaksin) kami memiliki penurunan antibodi (dari waktu ke waktu). Kami belum melihat penurunan kemanjuran, tetapi agak dini untuk menilai dan saya berharap sel-T akan memberikan perlindungan jangka panjang yang tahan lama ini," kata Soriot.

Sebelumnya, vaksin Sinovac dan Pfizer juga mengalami penurunan efikasi atau kemanjuran vaksin. Hal ini mendorong kemungkinan rekomendasi pemberian vaksin booster untuk meningkatkan perlindungan dari virus Corona. CEO Pfizer Albert Bourla pun sangat yakin bahwa orang-orang membutuhkan dosis penguat. Sebab, antibodi yang dihasilkan vaksin bisa memudar dari waktu ke waktu dan juga perkembangan varian Delta yang kian meluas.

"Kami sangat, sangat yakin bahwa dosis ketiga vaksinnya akan memberikan kekebalan yang cukup untuk melindungi dari varian Delta COVID-19 yang menyebar lebih cepat," ujar Bourla. Bourla pun mengakui bahwa vaksin buatannya mengalami pengurangan efikasi dalam waktu beberapa bulan pasca penyuntikan.

"Kemanjuran vaksin menurun menjadi sekitar 84 persen, dalam 4-6 bulan setelah dosis kedua diberikan," imbuhnya. (E-4)



Sumber Berita: Detik Health.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load