Hargai dan Dukung Semangat Nakes Lawan Pandemi

Senin , 26 Juli 2021 | 09:19
Hargai dan Dukung Semangat Nakes Lawan Pandemi
Sumber Foto: Istimewa.
Ilustrasi.

JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Daeng M Faqih menyebutkan, layanan kesehatan adalah persoalan yang sangat esensial dan unik. Tidak semua orang dapat memahami persoalan kesehatan dengan baik dan benar, bahkan mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang baik.

Ia mencontohkan, pada banyak kasus di IGD rumah sakit, ada sebagian masyarakat yang mengeluh pasien ditelantarkan oleh dokter. Pasien hanya diajak bicara atau hanya dipegang-pegang dan disentuh, tidak ada tindakan apa-apa. Padahal prosedur layanan kesehatan memang demikian. Pada beberapa kasus, observasi terhadap pasien hanya dilakukan melalui wawancara atau menyentuh pasien dan mendengarkan (palpasi).

“Bedakan antara ditelantarkan dengan diobservasi. Sebab tidak semua kasus harus langsung dirontgen, disuntik, diinfus dan tindakan lainnya,” jelas Daeng. Ia menyebut, kasus-kasus pasien Covid-19 dengan hasil PCR negatif memang ada meski jumlahnya sangat sedikit. “Jadi bukan berarti PCR-nya error. Kami menyebut sebagai false negative, yakni seolah-olah pasien tidak terkena virus Covid-19,” tukasnya.

Untuk menghindari kesalahan diagnosis, pada pasien dengan false negative, penting ditegakkan pemeriksaan penunjang seperti rontgen. Pemeriksaan rontgen pasien Covid-19 biasanya hasilnya akan menunjukkan terjadinya ground glass opacity (GGO), yakni kondisi abnormal paru-paru ditandai dengan warna putih atau abu-abu pada hasil rontgen.

Daeng mengakui, meski para dokter telah menegakkan diagnosis sesuai SOP yang berlaku, kadangkala pasien atau keluarga kurang percaya dengan hasil diagnosis dokter. 

“Jika pasien atau keluarga pasien menilai ada hal yang mencurigakan, bisa kok meminta penjelasan kepada dokter atau pihak rumah sakit. Itu haknya pasien. Tetapi tentu dengan prosedur dan aturan yang berlaku,” katanya.

Ketua Umum IDI mengingatkan, hubungan antara pasien dengan dokter memang harus dibangun atas dasar kepercayaan, saling menghormati dan saling menghargai. Sebab, dokter memiliki SOP yang sudah jelas, sementara pasien juga memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan dan penjelasan terhadap tindakan pengobatan yang dilakukan oleh dokter.

Persi Ingatan Kerja Nakes Optimal, Banyak Nakes telah Meninggal

Sementara itu, Humas Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Anjari Umarjiyanto menyesalkan adanya sebagian masyarakat yang menuding bahwa rumah sakit sering meng-Covid-kan pasien dengan motif keuntungan (uang).

Tudingan tersebut, bagi Anjari, tidak masuk akal, mengingat pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun justru membuat rumah sakit cukup kewalahan.

“Angka lebih dari 1.000 tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 ini bukanlah angka main-main. Ini artinya banyak rumah sakit yang kehilangan tenaga kesehatannya. Belum lagi banyaknya nakes yang harus isolasi akibat tertular Covid-19. Isolasi ini tentu akan mempengaruhi layanan kesehatan di rumah sakit. Nalar sehatnya di mana kalau dalam kondisi seperti itu masih ada yang tega menuding rumah sakit meng-Covid-kan pasien?” pungkas Anjari. (E-4)



Sumber Berita: RRI.co.id.

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load