Kenapa Riset Vaksin COVID-19 RI Tak Secepat China?

Selasa , 02 Maret 2021 | 17:24
Kenapa Riset Vaksin COVID-19 RI Tak Secepat China?
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Setahun pandemi Corona, Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menjelaskan mengapa vaksin Corona yang dikembangkan di Indonesia belum juga usai. Tak secepat pengembangan vaksin Corona di China.

"Tentunya kita harus melihat pada asal muasalnya, kalau kita melihat kenapa tahu-tahu bulan Desember mulai diketahui ada pandemi di Wuhan, bulan Juli Sinovac atau Sinopharm sudah mengeluarkan vaksin," jelas Bambang dalam konferensi pers Selasa (2/3/2021). "Berarti sebelum sampai mereka ke uji klinis itu hanya butuh 8 bulan untuk sampai kepada vaksin yang siap diuji klinis," lanjutnya. 

Menurutnya, China sudah mendapatkan bibit vaksin dengan virus yang dimatikan sampai menjalani optimasi di pabrik dalam waktu singkat hingga siap ke uji klinis pertama, kedua, dan ketiga. "Nah kenapa China bisa kenapa kita tidak, jawabannya adalah kita lhat backgroundnya. Kita lihat bahwa kunci dari suatu negara bisa menguasai vaksin apalagi menghasilkan vaksin dengan cepat itu adalah karena RnD-nya sudah kuat," sebut Bambang.

Ia mengambil contoh pada pengembangan vaksin Corona Pfizer, AstraZeneca hingga Johnson and Johnson. Menurut Bambang, perusahaan mereka sudah mengetahui bagaimana mengarahkan riset and development (RnD) paling ideal untuk penegmabnagn vaksin. "Karena dari awal manufactorynya sudah tahu kalau RnD-nya harus diarahkan sesuai dengan kapasitas dari manufactory-nya," papar Bambang.

"Bayangkan kalau RnD-nya mulai sendiri, manufacturnya mulai menyesuaikan di tengah atau di akhir. Itu yang mohon maaf terjadi dengan kita karena belum ada pengalaman," ungkapnya. Ia berharap momen pandemi Corona di RI ini menjadi pelajaran bagi para pengembang vaksin khususnya di Indonesia untuk melakukan riset secara mandiri dari hulu sampai hilir. (E-4)



Sumber Berita: Detik.com.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load