Jangan Puas Indeks HCI Naik, Kita Masih Jauh Tertinggal

Minggu , 20 September 2020 | 08:40
Jangan Puas Indeks HCI Naik, Kita Masih Jauh Tertinggal
Sumber Foto YouTube
Ilustrasi

JAKARTA--Indeks pembangunan manusia (human capital index) yang dikeluarkan Bank Dunia memperlihatkan skor Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan dua tahun lalu. Ini data bagus. Namun bila diperbandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, Indonesia masih tertinggal. Bila kita berpuas diri, maka ketertinggalannya makin jauh lagi.

Dalam laporan “the Human Capital Index 2020 Update: The Human Capital in the Time of Covid-19”, skor Indonesia tahun 2020 menjadi 0,54, naik dari 0,53 pada tahun 2018. "Ini membuktikan hasil belanja negara untuk human capital sudah mulai terlihat,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, Febrio Kacaribu, dalam keterangan resmi, Sabtu (19/9).

HCI merupakan salah satu program Bank Dunia yang didesain untuk menjelaskan bagaimana kondisi kesehatan dan pendidikan dapat mendukung produktivitas generasi yang akan datang. HCI mengombinasikan komponen-komponen probabilitas hidup hingga usia 5 tahun (survival), kualitas dan kuantitas pendidikan, dan kesehatan termasuk isu stunting. Komponen tersebut merupakan bagian utama dari pengukuran produktivitas tenaga kerja di masa depan dari anak yang dilahirkan saat ini.

Skor HCI 2020 diolah berdasarkan data baru dan diperluas untuk masing-masing komponennya hingga Maret 2020. Dengan demikian, laporan tersebut belum memperhitungkan dampak COVID19 pada human capital.

Selain kejadian pandemic Covid-19 yang sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam meningkatkan kualitas SDM, sejatinya Indonesia masih harus bekerja lebih keras lagi. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki skor 0,88, Vietnam (0,69 poin), Malaysia (0,61), Brunei Darussalam (0,63), Thailand (0,61). Posisi kita hanya sedikit lebih baik dari Filipina, Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste.

Dari 174 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat 87. Rendahnya kualitas SDM Indonesia juga digambarkan dalam laporan Human Developmen Index (HDI) 2020 dari UNDP. Peringkat Indonesia bahkan lebih rendah lagi, yaitu 111 dari 189 negara.

Kita memang masih menghadapi problem kualitas SDM yang berakibat pada rendahnya efisiensi dalam pembangunan. Meskipun sejak lebih 10 tahun pemerintah menggelontorkan dana besar bagi pengembangan sektor pendidikan, ternyata belum mampu mengangkat kualitas SDM secara merata. Aksesibilitasnya juga tidak merata.

Sejak tahun 2009 pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari APBN untuk dana pendidikan. Pada tahun 2020 nanti pemerintah mengalokasikan dana pendidikan sebanyak Rp 505,8 trilyun, untuk keperluan berbagai kebutuhan pendidikan, termasuk gaji, sertifikasi juga operasional sekolah.  

Kini di tengah pandemi Covid-19 makin terasa betapa problem kesehatan dan pendidikan sangat memukul kemampuan pemerintah dalam mempertahankan pelayanannya kepada masyarakat. Kegiatan belajar mengajar sangat terpukul. Proses belajar mengajar yang dilakukan secara daring mengalami berbagai hambatan, bukan hanya di daerah-daerah terpencil, melainkan juga perkotaan.

Banyak keluarga tak mampu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka untuk mengikuti pelajaran jarak jauh. Banyak anak tak memiliki handphone, apalagi membeli pulsa internet.  Pemerintah baru belakangan mensubsidi pulsa, namun masih harus dilihat lagi bagaimana pendistribusian dan hasilnya.

Dikhawatirkan kondisi ini akan diperparah dengan banyaknya keluarga yang jatuh miskin karena pengangguran meningkat sehingga kemampuan keluarga dalam membiayai kebutuhan kesehatan dan pendidikan sangat menurun. Maka sangat mungkin HCI dari Bank Dunia  dan HDI dari UNDP untuk keseluruhan tahun 2020 ini, bahka mungkin hingga 2021, juga terkoreksi lagi dari indeks yang sudah dilaporkan tadi.

Maka kabar kenaikan indeks HCI dari Bank Dunia harus dilihat sebagai penyemangat bahwa segala upaya yang dilakukan telah membuahkan hasil. Namun persoalan dan tantangan yang kita hadapi sangat besar dan rumit, yang membutuhkan kesungguhan pemerintah untuk memprioritaskan anggarannya pada pos-pos strategis yang memang sangat dibutuhkan rakyat. Kita masih tertinggal dari negara tetangga. Kalau pemerintah gagal menetapkan pos yang prioritas, posisi kita akan semakin jauh tertinggal, yang berakibat terhadap kualitas daya saing kita di masa depan. (Banjar Ch)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load