Klaim Temuan Obat dan Konsumen Sebagai Taruhannya

Minggu , 23 Agustus 2020 | 08:56
Klaim Temuan Obat  dan Konsumen Sebagai Taruhannya
Sumber Foto Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA--Prakarsa sejumlah lembaga pemerintah untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan pasien Covid-19 sangat dihargai. Temuan tersebut sangat berharga, bahkan membanggakan, bila benar-benar terbukti manjur dan diakui  dunia. Untuk mencapainya dibutuhkan proses penelitian ilmiah, uji klinis dan publikasi hasil penelitian dalam jurnal ilmiah internasional agar diakui benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Temuan yang sempat memberikan harapan adalah hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang didukung oleh TNI-AD dan Badan Intelijen Negara (BIN). Melihat lembaga-lembaga yang teribat dalam penelitian obat, sebenarnya sejak awal menimbulkan keraguan. Tapi public memaklumi karena di masa darurat seperti saat ini, siapapun yang berniat baik tentu akan disambut baik pula.

Persoalannya, proses penelitian tersebut tampak terburu-buru. Kita memang berkejaran dengan waktu dalam penanganan pandemic, namun para peneliti Unair seharusnya sangat paham bahwa mereka tidak bisa terburu-buru untuk menghasilkan obat. Kalaupun yang memesan hasil penelitiannya adalah lembaga yan sangat berwibawa seperti TNI-AD dan BIN, para peneliti Unair haruslah ilmuwan independen yang bekerja professional dan bertanggungjawab.

Kini akibatnya tidak menyenangkan. Hasil temuan Unair itu menimbulkan kritik luas. Kombinasi obat yang sudah diserahkan kepada TNI-AD  dan BIN hingga saat ini belum memperoleh ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Banyak aspek harus diteliti lebih mendalam, kemanjuran obat, efek  sampingnya dan berbagai aspek lainnya.

Pakar epidemologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menilai obat  Covid-19 buatan Unair dan BIN tersebut belum diregistrasi uji klinis Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Padahal terdapat persyaratan uji klinis obat yang sesuai standar internasional dan harus diregistrasi uji klinis oleh WHO.

Karenanya, Pandu menilai BPOM bisa menolak pengajuan izin edar dan produksi obat kombinasi Covid-19. “Masih perlu di-review apakah semua prosedur sudah dijalankan, dan review tingkat validitasnya,” kata Pandu kepada Tempo, pekan lalu.

Pandu juga mengatakan seharusnya laporan riset obat kombinasi itu dilaporkan Unair ke BPOM. Bukan ke TNI atau BIN sebagai sponsornya. Langkah Unair disebut tidak sesuai dengan prosedur. “Yang terjadi TNI dan BIN yang mendaftarkan ke BPOM. Aneh, kan?.”

Anggota Komisi Nasional Penilai Obat BPOM lainnya, Anwar Santoso menilai obat corona juga harus menghasilkan nilai saintifik yang bisa dipertanggungjawabkan. Ini berarti seluruh proses uji klinis yang dilakukan terhadap obat tersebut harus valid. Lebih lanjut, obat tersebut juga harus memiliki nilai sosial. "Nilai sosial ini yang betul-betul bermanfaat bagi masyarakat," kata Anwar.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, pemberian izin edar terhadap obat corona juga harus mempertimbangkan efektivitasnya. Riset tentang obat harusnya bisa menunjukkan hasil yang signifikan dibandingkan terapi standar lainnya. Adapun, obat corona yang dikembangkan Unair, TNI AD dan BIN, belum menunjukkan hal itu. "Hasilnya belum menunjukan adanya perbedaan yang sangat signifikan," kata Penny.

Hasil inspeksi BPOM menunjukkan proses uji klinis obat Covid-19 yang dikembangkan Unair bersama TNI AD dan BIN belum valid. Ada banyak hal yang masih harus diperbaiki agar obat tersebut dinyatakan valid dan mendapat izin edar BPOM.

Lebih lanjut, Penny mengatakan pihaknya telah memberikan hasil inspeksi pertama BPOM kepada tim peneliti obat Unair bersama TNI AD dan BIN. Namun, ia masih menunggu respon dari tim peneliti obat tersebut terkait perbaikan yang perlu dilakukan. "Kami belum mendapat respon dari tim Unair sampai hari ini, tentunya tim peneliti (Unair-BIN-TNI AD) terbuka untuk perbaikan," katanya.

Kita menghargai ketegasan sikap BPOM dalam memberikan ijin produksi maupun peredaran obat baru dengan pertimbangan matang dan sesuai standar yang berlaku. BPOM harus teguh dalam menjaga standar tersebut karena konsumen obat akan menjadi taruhan dan menanggung dampak yang mungkin ditimbulkannya.

Kita memandang masalah penemuan obat oleh Unair yang didukung TNI-AD dan BIN merupakan kasus yang menjadi pelajaran berharga agar kita lebih berhati-hati. Tidak terburu-buru, meski dikejar waktu. Ada disiplin-disiplin tertentu, prosedur standar yang harus dilalui agar hasil akhirnya bisa dipertanggungjawabkan. Janganlah bertindak potong kompas, yang penting cepat, dapat penghargaan dan dapat nama, namun rakyat yang menanggung akibatnya. (BC)



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load