Kemenhub Setop Operasi Kapal di Danau Toba

Rabu , 20 Juni 2018 | 18:00
Kemenhub Setop Operasi Kapal di Danau Toba
Sumber Foto Dok/Ist
Basarnas mengerahkan personel untuk mencari korban tenggelamnya KM Sinar Bangun.

JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghentikan sementara seluruh aktivitas penyeberangan melintasi Danau Toba. Keputusan itu diambil agar mempermudah Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (dahulu Basarnas) untuk melaksanakan pencarian korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun.

Sebagai gantinya, Kemenhub dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah menyiapkan dua buah kapal ferry Roll On Roll Off (RORO), bernama RORO 1 dan RORO 2. Kapal itu bakal melayani arus penumpang hendak melintasi Danau Toba. Kedua kapal RORO tersebut memang sebelumnya sudah beroperasi.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, keputusan itu sudah disepakati dengan 40 operator kapal penyeberangan yang beroperasi di lima dermaga di Danau Toba, yakni di Ambarita, Ajibata, Simanindo, Muara, dan Tigaras. Penghentian sementara operasional ini akan dilakukan selama tujuh hari ke depan, sesuai jadwal pencarian yang akan dilakukan oleh Basarnas.

"Maksimal ini tujuh hari sesuai dengan rekomendasi Basarnas," kata Budi di Kementerian Perhubungan, Rabu (20/6/2018) seperti dilansir cnnindonesia.com.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setyadi mengatakan kapal-kapal ferry yang dijalankan oleh operator swasta bisa kembali beroperasi, asal telah lolos audit dilaksanakan Kemenhub. Audit yang dilaksanakan terdiri dari pemeriksaan kelaikan kendaraan (ramp check), uji kir, dan sudah mampu menyiapkan mekanisme manifes penumpang, agar kejadian KM Sinar Bangun tidak terulang.

Meski demikian, Budi menyatakan Ditjen Hubungan Darat tidak bisa sendiri dalam melaksanakan audit tersebut. Rencananya, pemeriksaan ini akan dibantu oleh Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, mengingat kedua otoritas itu yang paham mengenai pemeriksaan keselamatan.

"Sebanyak 40 operator kapal kayu ini semua telah sepakat untuk meningkatkan keselamatannya. Setelah sepakat, kami akan mengecek keselamatan di kapal, seperti life jackets dan segalanya, Mereka juga perlu mengikuti standarisasi yang cukup lengkap, utamanya ramp check, KIR, dan manifes. Tanpa itu kapal tidak bisa jalan," dia menambahkan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load