Virus Corona: Pengobatan, Struktur Virus, dan Fatalitas

Jumat , 14 Februari 2020 | 01:19
Virus Corona: Pengobatan, Struktur Virus, dan Fatalitas
Sumber Foto: Bloomberg.
corona

JAKARTA - Saat ini virus corona sudah menginfeksi lebih dari 59.000 orang dengan jumlah korban lebih dari 1.300 orang. Peneliti di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menemukan obat bagi virus ini. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus corona, yang dinamai COVID-19, belum menerima pengobatan spesifik pada virus ini—karena pengobatannya sendiri belum tersedia.

Faktanya, berdasarkan informasi yang dipublikasikan U.S. Centers for Disease Control and Prevention orang-orang yang terinfeksi virus corona hanya menerima pengobatan untuk meredakan gejala yang mereka rasakan. Namun, beberapa obat yang diracik ulang seperti obat-obat untuk Ebola dan HIV berdasarkan penelitian terbaru menampakkan reaksi positif terhadap pengobatan pasien virus corona.

Melalui penelitian yang dilakukan pada hewan, peneliti menemukan bahwa remdesivir bisa meredakan coronavirus, obat ini merupakan jenis obat yang digunakan di penyakit MERS dan SARS. Namun, di luar kondisi gawat darurat, obat-obatan ini belum membuktikan efektivitasnya. 

Obat yang dipergunakan secara luas dalam menangani malaria yaitu chloroquine juga menampakkan reaksi yang positif terhadap virus corona. “Chloroquine tampak seperti obat yang punya konsentrasi lebih tinggi dibandingkan remdesivir, dan jika reaksi terhadap obat ini tampak benar-benar seperti yang terlihat dalam penelitian, obat ini cukup menjanjikan (sebagai obat corona),” ungkap Fanxiu Zhu Profesor Departemen Sains Biologi Universitas Florida pada Livescience. Walau begitu, menguji coba antiviral di laboratorium dikatakannya merupakan proses awal, bukan akhir dari proses. 

“Saya pikir ada banyak harapan bahwa remdesivir bisa berefek positif, dan saya pikir kita hanya bisa mengetahuinya dari uji klinis,” jelas Dokter Amesh Adalja, Spesialis Penyakit Menular dari Johns Hopkins Center for Health Security di Baltimore. 

Namun virus tidak semudah bakteri untuk ditaklukkan. Sebab, virus sangat beraneka ragam, dengan karakter yang tidak bisa dilumpuhkan dengan obat misalnya antibiotika spektrum luas, jelas Amesh Adalja lagi. Lagipula, virus menggunakan proses sel dalam tubuh manusia yang membantu mereka untuk mereplikasi diri, sehingga membunuh virus dan tidak merusak sel tubuh manusia merupakan proses yang sangat sulit.

Keanehan pada struktur virus corona

Selain sifat virus yang tidak mudah ditaklukkan, struktur virus corona Wuhan sendiri merupakan tantangan bagi para peneliti. Dalam salah satu wawancara, Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Prof Chaerul Anwar Nidom mengemukakan keanehan pada struktur virus corona ini. Ia mengatakan ada unsur tambahan yang belum jelas asal-usulnya. Tambahan struktur ini tidak ada di dalam SARS ataupun MERS.

"Virus ini ada keanehan, yaitu punya tambahan struktur yang ada dalam dirinya yang tidak dipunyai SARS ataupun MERS. Yang membedakan di kalangan pengamat bahwa ini tambahan buatan atau tambahan alam," kata Nidom, dalam kunjungannya ke kantor Transmedia Surabaya seperti yang dilansir Detik.

Prof Nidom lalu memaparkan, menurutnya dua macam virus Corona. Jenis pertama yaitu low pathogenic yang tidak begitu ganas, yang reseptornya ada di saluran atas. Jenis kedua high pathogenic, yang reseptornya ada di paru yang berakibat fatal. "Virus high pathogenic berakibat fatal tatkala virus itu masuk ke paru. Low pathogenic bisa sembuh karena di saluran atas, yang dengan batuk akan keluar," jelasnya.

"Jadi ada tambahan protein sekitar 45 nukleotida. Nah, ini agak aneh. Apakah protein ini menempel pada virus yang berbadan kelelawar atau ada satu usaha penempelan, nah itu yang belum diamati. Jadi perlu kehati-hatian dalam menangani virus ini," papar Nidom lagi. 

"Gelombang satu itu biasanya tinggi penyebarannya, kemudian diikuti oleh patogenesis yang tinggi. Kemudian mengalami mutasi agak landai pada wave kedua. Apakah dia pada wave ketiga mengalami percepatan lagi karena ini virus RNA itu akan selalu mengalami perubahan yang disebut mutasi. Jadi saya lihat ada sedikit menarik dari virus corona ini karena sudah lebih dari satu bulan dia memiliki kestabilan yang sangat kuat, biasanya RNA tidak seperti itu," analisisnya.

Fatalitas yang berbeda  

Gejala awal infeksi corona adalah demam dan batuk. Selanjutnya penderita akan mengalami pneumonia ketika paru-paru mereka meradang. Dalam kasus yang lebih parah, akan terjadi badai sitokin, ketika imun sistem membanjiri tubuh dengan sel dan protein yang merusak organ lain.

Dari 17.000 kasus COVID-19 terlihat bahwa 82% kasus bisa tertangani dengan baik dan 2% pasien meninggal. Rata-rata pasien meninggal 15 hari setelah terinfeksi, walau ada berbagai variasi kondisi di lapangan yang ditemukan. Walau masih terlalu awal untuk disimpulkan, orang-orang yang sembuh dari virus corona menampakkan gejala seperti pasien SARS yang juga berhasil sembuh, mereka kembali sehat sepenuhnya dan tidak lagi berbahaya bagi sekitarnya. Ini berbeda epidemi Ebola dan Zika, yang masih mengakibatkan efek neurologis lanjutan bagi sebagian orang.

Siapa yang paling fatal saat mengidap virus corona? Ada hubungan yang sangat erat antara virus ini dan usia. Orang-orang yang sudah memiliki penyakit degeneratif seperti, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit lain yang menekan sistem imun adalah orang-orang yang paling rentan.

Karena itu, kebanyakan dari mereka yang berada dalam kondisi terparah adalah orang-orang dengan usia di atas 65 tahun. Orang tua cenderung memiliki imun sistem yang lebih lemah dan memiliki berbagai penyakit kronis. Ini dibandingkan jumlah anak kecil yang hanya sedikit mengalami kasus infeksi COVID-19. (E-4)



Sumber Berita: berbagai sumber.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load