Yayasan Upaya Indonesia Damai Gelar Kelulusan Program Bekal Pemimpin

Jumat , 06 Desember 2019 | 10:43
Yayasan Upaya Indonesia Damai Gelar Kelulusan Program Bekal Pemimpin
Sumber Foto dok/shangbo
Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil (kedua dari kanan), Founder UID Cherie Nursalim (ketiga dari kanan) dan Sekjen Lembaga Indonesia Tiongkok Susanto Sjahir (ketiga dari kiri) pada acara Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID) di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

JAKARTA - Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) menggelar acara kelulusan peserta program Bekal Pemimpin angkatan pertama. Program yang diikuti 58 peserta mengasilkan 9 prototype solusi yang memunculkan benih-benih perubahan positif di berbagai sektor dalam pengelolaan sumber daya alam di beberapa daerah.

Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil turut memuji kesembilan prototype solusi yang dihasilkan para peserta setelah mengikuti proses pembelajaran selama 6 bulan mulai Juli hingga Desember 2019.

“Saya senang sekali dan optimis sekali melihat masa depan Indonesia setelah melihat hasil anak-anak muda ini semua. Pemuda Indonesia yang akan mengubah negeri ini menjadi jauh lebih baik daripada hari ini,” katanya saat memberikan sambutan pada acara tersebut di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Program Bekal (Bersama Kelola Alam Adil Lestari) Pemimpin merupakan program penguatan kapasitas pemimpin para pelaku dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia di seluruh sektor untuk mentransformasikan sistem sosial Indonesia menuju realita masa depan.

Menurut Sofyan, semakin banyak semakin banyak program seperti Bekal Pemimpin diadakan, maka Indonesia yang lebih akan lebih cepat tercipta. Saat ini, kata dia, upaya moderanisasi terutama di desa-desa banyak terkendala oleh lemahnya kelembagaan.

“Pemimpin makes diference di semua lini. Karena itu pemimpin seperti kalian sangat dibutuhkan. Kita menyadari di desa-desa kelemahan kita adalah lemahnya kelembagaan desa. Lemahnya kelembagaan di desa, lemahnya kelembagaan petani, lemahnya kelembagaan koperasi di tingkat desa. Upaya modernisasi, upaya penerapan teknologi dan sustainable development banyak terkendala karena banyaknya kelemahan kelembagaan yang ada,” tuturnya.

Reforma agraria yang menjadi perhatiaan Presiden saat ini, kepemilikan lahan di Indonesia terlalu secure, indeks pemilikan lahan antata 0,56 sampai 0,64, kita tidak tahu karena tidak pernah dilakukan survey yang detail tentang indeks penguasaan lahan.

“Semua tidak bisa dilaksanakan karena lemahnya kelembagaan, Selama ini kita sudah nmelakukan reformasi agraria, tanah diberikan kepada rakyat. Memang nama sertifikat tidak ditransfer ke orang lain, tapi tanahnya sudah dijual. Ini karena lemahnya kelembagaan. Karena itu, program Bekal ini saya sangat senang dan akan membuat Indonesia berbeda,” katanya.

Menurut Menteri, para lulusan Bekal Pemimpin merupakan agen perubahan yang akan membuat bangsa ini menjadi besar dan berkeadilan. “Visi kearifan lokal di negara kita adalah bagaimana menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Kalau versi Islam negeri yang baik adalah baldatun thoyibatun wa rabbun gofur, artinya negeri yang aman, negeri yang makmur, negeri yang toleran, negeri yang penuh ampunan Tuhan,” tuturnya.

Selain Sofyan Djalil, acara kelulusan itu juga dihadiri oleh Founder UID Cherie Nursalim, Sekjen Lembaga Indonesia Tiongkok Susanto Sjahir, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Helmi Basalamah, Kasubdit Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Kearifan Lokal, dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yuli Prasetyo.

CEO UID Indira P. Baheramsyah mengatakan Program Bekal Pemimpin dilaksanakan oleh Yayasan UID dan didukung oleh David and Lucille Packard Foundation. Program diikuti oleh 58 peserta dari sektor pemerintah pusat dan daerah, bisnis, dan masyarakat madani. Ke-58 peserta itu terpilih dari sekitar 650 pendaftar.

Indira mengatakan program tersebut memfokuskan pada beberapa isu pengelolaan sumber daya alam yang selama ini memainkan peran sangat penting dalam menentukan kualitas lingkungan Indonesia, antara lain: pemanfaatan lahan, akuakultur, perikanan dan kelautan, agrikultur, serta bidang-bidang lain yang berpengaruh terhadap pengelolaan sumber daya alam, seperti inovasi model bisnis, value chain dan pemanfaatan teknologi digital.

“Kami merasa berbahagia dan merasakan semangat gotong-royong seluruh peserta dalam setiap ide prototype yang ditampilkan dalam acara kegiatan Kelulusan pada hari ini. Dengan tumbuhnya rasa saling percaya antara sektor pemerintah-bisnis dan masyarakat madani, kami percaya Bangsa Indonesia akan mampu menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumberdaya alam dengan mengubahnya menjadi peluang sehingga dapat mewujudkan pengeloaan sumberdaya alam Indonesia yang berkeadilan, berkelanjutan dan berkearifan lokal,” ia menambahkan.(E-2)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load