Pengungsi Cianjur Yang Menderita ISPA, Diare dan Hipertensi Terus Bertambah

- Jumat, 2 Desember 2022 | 22:20 WIB
Tenaga medis dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan pelayanan kesehatan langsung ke posko pengungsian korban gempa di Kabupaten Cianjur, Jabar, Jumat (2/12/2022). Setiap hari dilakukan pemeriksaan guna memastikan kondisi kesehatan pengungsi.(FOTO ANTARA/Ahmad Fikri). (Ahmad Fikri)
Tenaga medis dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan pelayanan kesehatan langsung ke posko pengungsian korban gempa di Kabupaten Cianjur, Jabar, Jumat (2/12/2022). Setiap hari dilakukan pemeriksaan guna memastikan kondisi kesehatan pengungsi.(FOTO ANTARA/Ahmad Fikri). (Ahmad Fikri)

SINAR HARAPAN--Posko kesehatan terpadu tanggap darurat bencana gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyatakan memasuki hari ke-12 setelah bencana, pengungsi yang tinggal di dalam tenda mulai terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare dan hipertensi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy di Cianjur Jumat, mengatakan pelayanan kesehatan bergerak ke masing-masing posko pengungsian yang tersebar di 200 titik, dilakukan tim kesehatan dari kementerian dan sukarelawan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Palang Merah Indonesia (PMI).

"Pelayanan kesehatan diberikan secara rutin setiap hari dengan cara 'mobile' ke masing-masing posko pengungsian, tercatat setiap harinya jumlah pengungsi yang mengeluhkan sakit terus bertambah dari tiap posko tidak kurang dari 85 orang setiap harinya memeriksakan diri," katanya.

Ia menjelaskan kondisi pengungsian yang kurang memadai menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan penyakit terhadap warga yang mengisi tenda di pengungsian terpusat atau mandiri. Untuk yang terpusat dipastikan seluruh sukarelawan kesehatan sudah masuk karena diberlakukan "check-in" dan "check-out".

Penyakit yang banyak didapatkan selama pelayanan kesehatan ke masing-masing posko pengungsian di antaranya ISPA, diare dan hipertensi serta beberapa orang mengalami diare.

“Kami akan lebih fokus terhadap penyakit yang diderita terutama diare dan ispa karena berhubungan dengan kondisi lingkungan di pengungsian,” katanya.

Sedangkan untuk pengungsi tenda mandiri, tambah dia, tetap dilayani dengan melibatkan tenaga kesehatan di masing-masing puskesmas terdekat. Selama tanggap darurat bencana seluruh relawan harus masuk ke posko kesehatan melaporkan untuk mengetahui kekuatan relawan termasuk sarana prasarana yang dibawa.

“Untuk sukarelawan yang tercatat di posko kesehatan terpadu di Pendopo Kabupaten Cianjur, sebanyak 3.445 orang, sampai hari ke-12 ini yang masih aktif sekitar 2.333 orang," katanya.

Sedangkan ribuan sukarelawan kesehatan tersebut, terdiri atas 263 dokter umum, 680 perawat, 284 bidan, dokter ahli spesialis 66 orang, terapis 22 orang, termasuk diantaranya tenaga psikiater, demikian Irvan Nur Fauzy.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X