• Sabtu, 13 Agustus 2022

Muhadjir: Prevalensi Stunting Harus Turun Tiga Persen per Tahun

- Jumat, 17 Juni 2022 | 15:48 WIB
Tangkapan layar - Menko PMK Muhadjir Effendy dalam kegiatan National Showcase SMK Bisa 2022.(Antara/Wuryanti Puspitasari)
Tangkapan layar - Menko PMK Muhadjir Effendy dalam kegiatan National Showcase SMK Bisa 2022.(Antara/Wuryanti Puspitasari)


SINAR HARAPAN - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan prevalensi kekerdilan atau stunting harus turun sebesar tiga persen per tahun hingga menjadi 14 persen pada 2024.

"Prevalensi stunting saat ini sebesar 24,4 persen, sementara Presiden menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen pada 2024. Untuk mengejar target tersebut, maka prevalensi stunting harus turun tiga persen per tahun," katanya dalam kegiatan "National Showcase SMK Bisa 2022" yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat 17 Juni 2022.

Dia menjelaskan bahwa berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita.

Baca Juga: Lebih 100.000 Keluarga Di Pekanbaru Hadapi Resiko Stunting

"Kenapa program penurunan stunting ini penting? Karena periode 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas guna memastikan perjalanan generasi penerus Indonesia," katanya.

Guna menekan angka kekerdilan dan mencetak generasi emas Indonesia Tahun 2045, Muhadjir Effendy mengingatkan perlunya penguatan sosialisasi dan edukasi bagi para keluarga, terutama bagi remaja putri, yang nantinya akan menjadi calon ibu.

"Perlu diperhatikan kondisi remaja putri yang nantinya akan menjadi calon ibu. Perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna menjaga kesehatan tubuh dan juga menghindari anemia, hal ini sangat penting sebagai upaya preventif mencegah agar bayi yang dilahirkan tidak stunting," ujarnya.

Baca Juga: Persalinan Yang Terlalu Sering Picu Kelahiran Stunting dan Autisme

Menko PMK menambahkan, permasalahan kekerdilan harus ditangani secara menyeluruh mengingat Indonesia akan mencapai bonus demografi yang perlu dimanfaatkan dengan baik.

"Jika persoalan kekerdilan atau stunting tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, maka masa bonus demografi akan terlewat dan Indonesia akan sulit untuk mencapai generasi emas 2045," ia menyatakan.

Dia juga mengatakan bahwa program penanganan dan penurunan prevalensi kekerdilan perlu peran aktif dari semua pihak agar dapat terwujud sesuai dengan target yang diharapkan.

"Guna menurunkan angka stunting dari 24,4 persen menjadi 14 persen pada 2024, maka diperlukan kerja sama seluruh pihak untuk mewujudkannya," katanya.

"Yang juga tidak kalah penting adalah edukasi bagi calon-calon pengantin agar dapat mempersiapkan sejumlah hal, antara lain kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga dan cara hidup berkeluarga serta ekonomi keluarga," ia menambahkan.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Sebagian Besar Wilayah Indonesia Berawan Siang Ini

Jumat, 12 Agustus 2022 | 08:52 WIB
X