• Rabu, 29 Juni 2022

Waspadai Pembengkakan Kelenjar Getah Bening, Mungkin Gejala Cacar Monyet

Banjar Chaeruddin
- Selasa, 24 Mei 2022 | 18:36 WIB
Ilustrasi (parenting.orami.co.id)
Ilustrasi (parenting.orami.co.id)

SINARHARAPAN--Pembengkakan pada kelenjar getah bening menjadi gejala spesifik yang membedakan penderita cacar monyet atau monkeypox dengan cacar pada umumnya.

"Yang menjadi pembeda ada pembengkakan kelenjar getah bening (Limfadenopati) pada leher dan selangkangan," kata Jurubicara Kementrian Kesehatan Mohammad Syahril dalam keterangan pers yang diikuti dari YouTube di Jakarta, Selasa (24/5).

Syahril mengatakan gejala lain pada cacar monyet ditandai dengan sakit kepala, sakit kepala hebat, demam tinggi, nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Pada umumnya virus membutuhkan masa inkubasi selama 6 hingga 16 hari, tetapi pada kasus lainnya ada yang dapat mencapai 5 hingga 21 hari. "Untuk fase prodromal atau invasi selama 1-3 hari," katanya.

Jika sudah mencapai tahap erupsi atau fase paling infeksius, kata Syahril, ditandai dengan ruam atau lesi pada kulit, biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras (krusta) atau keropeng lalu rontok.

"Biasanya diperlukan waktu hingga 3 pekan sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok dengan sendirinya," katanya.

Syahril mengatakan cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili Poxviridae yang bersifat highly pathogenic. "Cacar monyet termasuk dalam kriteria zoonosis (penyakit hewan)," katanya.

Virus pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958. Sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970 di Kongo.

Ia mengatakan penularannya melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi, atau benda yang terkontaminasi virus seperti darah, air liur, cairan tubuh, lesi kulit, droplet pernapasan.

"Sejauh ini di Indonesia belum ada laporan kasus cacar monyet dan secara global tidak ada kematian akibat kematian cacar monyet," katanya.

Komunitas Gay

Dikabarkan bahwa komunitas lesbian, gay, biseksual, transeksual, dan queer (LGBTQ) dibuat resah dengan penyakit cacar monyet yang kini merebak di dunia. Ada kekhawatiran penyakit tersebut akan semakin menambah diskriminasi.

David Hawkins dari West Island LGBTQ2+ Centre menyebut dampak sosial dari ketakutan yang ditimbulkan cacar monyet bisa sama seperti pengalaman saat krisis HIV-AIDS. Cacar monyet akan dikaitkan dengan penyakit 'kaum homoseksual' dan orang-orang didiskriminasi sehingga malah jadi takut menjalani tes kesehatan.

"Risiko dan ketakutan bahwa ini akan digunakan untuk menstigmatisasi komunitas LGBTQ2+ lebih jauh, saya pikir ketakutan itu sangat nyata bagi banyak orang dan ada catatannya dalam sejarah," kata David seperti dikutip dari CBC, Minggu (22/5).

Dikutip detik.com, kaitan antara wabah cacar monyet dengan komunitas LGBTQ berawal dari temuan otoritas di Inggris yang melihat penyakit menyebar di antara pria homoseksual. Selain itu otoritas di Spanyol juga menutup satu sauna yang populer di antara pria homoseksual karena diduga berkaitan dengan penularan cacar monyet.

Cacar monyet sendiri merupakan penyakit yang dapat menular bila seseorang melakukan kontak fisik dengan orang yang sakit. Salah satu contoh kontak fisik tersebut memang aktivitas seksual, namun selain itu bisa juga hanya dengan bersentuhan, terpapar percikan liur, atau menyentuh objek yang terkontaminasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa semua orang berisiko terpapar cacar monyet. Termasuk di antaranya orang tua yang merawat anak sakit hingga tenaga kesehatan.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

72.092 Calon Haji Indonesia Tiba di Arab Saudi

Senin, 27 Juni 2022 | 11:03 WIB

Wabah PMK di Lombok Tengah Terus Melonjak

Jumat, 24 Juni 2022 | 14:45 WIB
X