• Jumat, 1 Juli 2022

Belajar Toleransi dari Kota Singkawang

- Kamis, 27 Januari 2022 | 11:53 WIB
Suasana murid di kelas saat baca doa sebelum mulai belajar di SMPN 19 Singkawang, Kalimantan Barat.
Suasana murid di kelas saat baca doa sebelum mulai belajar di SMPN 19 Singkawang, Kalimantan Barat.

Empat di lantai dasar dan empat di lantai atas. Ruang kelas itu ditempati murid kelas 8 dan 9. Setiap masuk kelas, murid melepas alas kaki, sehingga kelas bersih tak ada jejak sepatu kotor. Setiap dinding warna kuning gading mulai dari tangga naik ke lantai dua, pintu masuk hingga dinding kelas, terpajang hasil karya siswa.

Ada kalimat berisi anjuran untuk sopan santun menggunakan Bahasa Inggris. Ada kalimat peringatan bahaya merokok menggunakan tiga bahasa; Indonesia, Mandarin dan Inggris. Di dalam kelas terdapat Profil Pelajar Pancasila meliputi; bernalar kritis, gotong royong, kebhinnekaan global, mandiri, kreatif, beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia.

Juga ada pohon pengharapan yang berisi kata-kata motivasi. Serta pojok baca yang memajang piala prestasi, setiap kelas dan buku bacaan."Semua yang membuat prakarya dan menghias kelas adalah siswa sendiri," kata guru BK, Bong Adi Effendi.

Kalimat motivasi juga dipajang pada bangunan kelas lama. Kata bijak dari tokoh dunia, seperti Bunda Teresa dan Jack Ma, dipajang pada dinding teras ruang kelas. Semua itu untuk memotivasi siswa, agar dapat meniru jejak para tokoh sesuai visi sekolah. Yaitu, mewujudkan sekolah unggul berwawasan lingkungan, berdasarkan kebhinnekaan dan Pancasila.

Pendidikan keberagaman di sekolah, turut membuat Kota Singkawang mendapat predikat sebagai kota paling toleran di Indonesia. Setara Institute dalam studi indeks kota toleran (IKT) tahun 2018 dan 2020, melaporkan Singkawang menjadi salah satu dari 10 kota paling toleran di Indonesia.

Berdasarkan IKT tahun 2018, Singkawang menempati urutan pertama, disusul Kota Salatiga, dan Kota Pematang Siantar. Selanjutnya, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan Surabaya. IKT tahun 2020, Singkawang urutan kedua, setelah Salatiga. Urutan ketiga, Manado disusul Tomohon, Kupang, Surabaya, Ambon, Kediri, Sukabumi, dan Bekasi.

Terkait itu, Bong Adi menyatakan, pihaknya ingin menjadikan SMPN 19 sebagai etalase atau cermin yang bisa dilihat. Bahwa, pendidikan toleransi bisa diterapkan dan dirasakan di SMPN 19."Apa yang ada di SMPN 19, kita harapkan bisa membias ke sekolah-sekolah lain," kata guru satu-satunya dari etnis Tionghoa di SMP negeri itu.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie dalam kesempatan terpisah menyatakan, tidak mengetahui secara pasti, ukuran penetapan Singkawang sebagai kota paling toleran di Indonesia. Tetapi ia berjanji akan mempertahankan prestasi, dan meningkatkan lagi dari hal-hal yang kecil."Kita tidak tahu saat mereka turun meninjau. Tetapi saya disampaikan, hasilnya seperti itu, dan minta lebih ditingkatkan lagi kepada hal-hal yang diperlukan," ia menjelaskan.

Baginya, peringkat satu atau dua, tak begitu masalah. Yang terpenting adalah, harus tetap menjaga keharmonisan masyarakat Kota Singkawang, sehingga tetap aman, nyaman dan damai. Dia berharap, warga Singkawang dapat hidup berdampingan dengan baik. Selalu bekerja sama, tanpa masalah atau gesekan, terkait isu etnis, agama dan golongan.

Melihat keberagaman di Kota Singkawang, kita bisa melihat dan mendapatkan contoh baik. Bahwa perbedaan bukan untuk perpecahan. Tetapi menjadi sikap toleran dan harmoni.(Nurul Hayat)

Halaman:

Editor: editor2

Tags

Terkini

72.092 Calon Haji Indonesia Tiba di Arab Saudi

Senin, 27 Juni 2022 | 11:03 WIB
X