• Selasa, 24 Mei 2022

Belajar Toleransi dari Kota Singkawang

- Kamis, 27 Januari 2022 | 11:53 WIB
Suasana murid di kelas saat baca doa sebelum mulai belajar di SMPN 19 Singkawang, Kalimantan Barat.
Suasana murid di kelas saat baca doa sebelum mulai belajar di SMPN 19 Singkawang, Kalimantan Barat.

PONTIANAK - Toleransi tidak muncul begitu saja. Ia harus dipupuk sehingga dapat tumbuh dengan baik. Sekolah merupakan tempat ideal nilai toleransi ditanamkan kepada setiap anak didik.

Contoh baik itu, setidaknya bisa kita lihat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 19 di Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

SMPN 19 Singkawang menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kegiatan belajar dan mengajar. Sekolah itu berdiri tahun 2015. Meski baru tujuh tahun berdiri, sekolah itu dapat menjadi model pendidikan toleransi. Terutama bagi generasi muda saat ini.

Program itu bertujuan menanamkan nilai toleransi kepada anak didik. Apalagi siswa di SMPN 19 cukup majemuk. Ada Tionghoa, Dayak, Melayu, Batak, Madura, Jawa, Bugis, dan Sunda.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang mengimbau tiap sekolah agar memiliki program kearifan lokal untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar. Karena itu, Kepala sekolah SMPN 19 dibantu para guru, segera menyiapkan tiga program kearifan lokal.

Program itu meliputi permainan barongsai, tari kipas, dan kesenian tundang (pantun dan gendang). Agar berjalan optimal, program itu jadi kegiatan ekstrakurikuler. Siswa kelas 7, 8, dan 9 diberi ruang, ikut kegiatan tersebut. Sekolah menyiapkan guru terlatih.

Siswa mengikuti kegiatan dengan antusias. Bila barongsai biasanya dimainkan anak Tionghoa, dalam kegiatan itu, siswa dari etnis lain turut memainkan. Bahkan, mereka terampil sekali memainkan atraksi kesenian khas Tionghoa itu. Begitu pun bertundang. Siswa Tionghoa memainkan kesenian khas Melayu tersebut.

“Nah, itu uniknya," kata Kepala Sekolah SMPN 19, Eva Purwanti, saat ditemui di sekolah Gang Bunga, Jalan Yohana Godang, Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, beberapa waktu lalu.

Sekolah memiliki 440 siswa dan 32 guru. Sebanyak 370 lebih murid dari etnis Tionghoa. Sekitar 50 dari etnis Melayu. Selebihnya, Dayak, Madura, Batak, Sunda, Jawa, dan Bugis. Guru terbanyak dari Melayu dan Jawa. Disusul Dayak, Batak, Padang, dan Manado. Serta, satu dari etnis Tionghoa."Selalu ada kebersamaan di antara kami," katanya lagi.

Halaman:

Editor: editor2

Tags

Terkini

Menko PMK Sebut Kasus Covid-19 Terkendali

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:46 WIB
X