• Kamis, 6 Oktober 2022

Guru Minta Dibuatkan Aturan Pencegahan Kekerasan Seksual

- Sabtu, 11 Desember 2021 | 08:47 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual.
Ilustrasi pelecehan seksual.

JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta Kementerian Agama (Kemenag) membuat aturan terkait pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama.

Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri meminta itu karena merasa sangat prihatin dan mengecam perbuatan oknum guru di salah satu pesantren di Kota Bandung yang melakukan tindakan kekerasan seksual kepada 12 santriwati yang rata-rata berumur 16-17 tahun, serta mengakibatkan 8 orang melahirkan, dan 2 orang sedang hamil.

"P2G memberikan tiga (3) catatan kritis sebagai evaluasi sekaligus rekomendasi, agar kekerasan apapun bentuknya tidak terulang lagi di satuan pendidikan, baik sekolah, madrasah, maupun satuan pendidikan agama lainnya seperti: pesantren, seminari, pasraman, dan dhammasekha," kata Iman dalam keterangan yang diterima rri.co.id, Jum'at (10/12/2021).

Pertama, tambah Iman, P2G meminta aparat kejaksaan menuntut dengan ancaman hukuman maksimal dan hakim di pengadilan memutuskan vonis setinggi-tingginya kepada pelaku. "Hukuman maksimal penjara seumur hidup dan kebiri kimia bagi oknum guru, agar menjadi pembelajaran bagi masyarakat, jangan sekali-sekali meniru perbuatan hina itu," ungkap Iman. 

Apa lagi, tambah Iman, yang bersangkutan merupakan guru yang semestinya menjadi teladan, digugu dan ditiru, serta membangun karakter bagi muridnya.

"Pesantren atau lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan sehat untuk proses mendukung tumbuh kembang anak secara individual, intelektual, spiritual, dan sosial, bukan sebaliknya. Faktor inilah yang dapat menjadi pemberatan hukuman kepada oknum guru," tekannya.

Lebih lanjut Iman mengatakan, P2G mengapresiasi langkah sigap Pemprov Jawa Barat yang memberikan konseling dan pendampingan trauma healing bagi korban. "P2G juga meminta LPSK memberikan perlindungan, ada potensi perundungan kepada korban atau saksi dari pihak tertentu, mengingat pelaku kan tokoh agama yang cukup disegani di kota Bandung," lanjut Iman yang juga guru madrasah ini.

Dikatakan dia, P2G berharap masyarakat tidak menyalahkan korban dan keluarganya. Untuk itu, masyarakat mesti dididik agar berempati kepada keluarga korban kekerasan seksual, apa lagi mayoritas mereka merupakan anak di bawah 18 tahun. "Kekerasan seksual seperti pencabulan, pemerkosaan, dan tindakan asusila lainnya di satuan pendidikan berbasis agama bukan pertama kali terjadi," sesalnya.

Dalam catatan P2G, kasus kekerasan seksual yang mencuat serta menjadi perbincangan publik di media pada 2021, terjadi di satuan pendidikan agama baik status formal maupun non formal.

Halaman:

Editor: editor4

Tags

Terkini

X