Bumi Terancam Perang, Libatkan Rusia

Jumat , 14 Januari 2022 | 12:40
Bumi Terancam Perang, Libatkan Rusia
Sumber Foto: Unsplash/Jeff Kingma.
Ilustrasi.

JAKARTA - Konflik Rusia dan Ukraina masih memanas. Dialog yang digelar di Jenewa, Swiss untuk menyelesaikan krisis Kyiv bersama dengan Amerika Serikat (AS) tidak membuahkan hasil.

Rusia mengatakan dialog yang dilakukan awal pekan ini menemui jalan buntu saat membujuk AS untuk melarang Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Moskow juga mengulangi tuntutan untuk memutar kembali ekspansi aliansi selama beberapa dekade di Eropa, dan menurut Washington ini tidak dapat diterima.

"Pada tahap ini benar-benar mengecewakan," kata Duta Besar Rusia Alexander Lukashevich kepada wartawan setelah pertemuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), dikutip dari Reuters Jumat (14/1/2022). Dia memperingatkan kemungkinan "konsekuensi bencana" jika kedua belah pihak tidak dapat menyetujui garis merah keamanan ala Rusia.

Di sisi lain, Moskow juga tidak menyerah pada diplomasi dan bahkan akan mempercepatnya. Di Washington, Gedung Putih mengatakan ancaman invasi Rusia ke Ukraina tetap tinggi, dengan sekitar 100.000 tentara Moskow dikerahkan. AS sendiri akan mengumumkan tindakannya dalam 24 jam jika Rusia melakukan rencananya itu.

 

"Drama perang terdengar keras, dan retorikanya menjadi agak melengking," kata Duta Besar AS untuk OSCE, Michael Carpenter, mengatakan setelah pembicaraan dengan Rusia di Wina. "Ancaman invasi militer tinggi," kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan kepada wartawan. "Tidak ada tanggal yang ditetapkan untuk pembicaraan lagi. Kami harus berkonsultasi dengan sekutu dan mitra terlebih dahulu."

Polandia juga mengatakan hal yang sama. Menteri Luar Negeri Polandia Zbigniew Rau mengatakan Eropa berisiko terjun ke dalam perang karena Rusia yang belum menyerah pada diplomasi terhadap Ukraina.

"Tampaknya risiko perang di wilayah OSCE sekarang lebih besar daripada sebelumnya dalam 30 tahun terakhir," kata Rau kepada forum keamanan 57 negara. Rau melaporkan tidak ada terobosan pada pertemuan Wina, yang diikuti Rusia-AS. pembicaraan di Jenewa pada Senin dan konferensi Rusia-NATO di Brussels pada Rabu.

Ketegangan antara Rusia dengan Ukraina serta NATO sendiri dimulai pada tahun 2014 lalu. Rusia telah merebut semenanjung Krimea dari Kiev dan mendukung pemberontakan separatis yang berusaha menggabungkan wilayah itu dengan Moskow.

Ini membuat beberapa negara NATO berang. AS dan Eropa ramai-ramai memberondong sanksi ekonomi terhadap Rusia akibat pencaplokan ini. Bahkan negara NATO sempat mengirimkan kapal perangnya ke wilayah yang berada di bibir Laut Hitam itu. (E-4)



Sumber Berita: CNBC Indonesia.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load