Krisis Energi Eropa Makin Mengerikan, Ini Bukti Terbarunya

Kamis , 06 Januari 2022 | 09:30
Krisis Energi Eropa Makin Mengerikan, Ini Bukti Terbarunya
Sumber Foto: www.politics-dz.com.
Ilustrasi.

JAKARTA - Krisis energi masih belum terpecahkan secara menyeluruh di Eropa. Krisis yang diakibatkan defisit persediaan gas ini membuat harga komoditas itu melambung.

Dalam catatan data, harga gas bulan depan di pusat TTF Belanda, patokan Eropa untuk perdagangan gas alam, sekitar 5% lebih tinggi pada Rabu (5/1/2022) pukul 1 siang menjadi 93,3 euro per megawatt-jam. Ini merupakan kenaikan kedua dalam sepekan setelah terjadi kenaikan 30% pada Selasa.

Kenaikan ini memperpanjang reli selama tahun 2021. Di mana harga gas grosir Eropa sudah naik lebih dari 400%. Kondisi ini sendiri membuat beberapa usaha di Benua Biru khawatir. Di Inggris, pelaku usaha mengeluhkan bahwa kondisi ini akan memberikan pukulan baru bagi perusahaan mereka yang sudah berjuang setelah bangkit dari pandemi Covid-19.

 

"Tekanan pada usaha kecil sudah menakutkan, dengan banyak dari kita menghentikan investasi sementara mayoritas pemasok mengirim email kenaikan harga mingguan," sebut Adam Bamford, CEO Colleague Box. "Ini bisa menjadi jerami yang mematahkan punggung beberapa dari kita."

Analis mengatakan bahwa situasi ini disebabkan oleh faktor-faktor pengiriman dari Rusia. Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, mengatakan bahwa Eropa telah mengalami kegagalan dalam menyimpan defisit gas sehingga sangat bergantung pada mobilisasi pasokan.

"Hingga Januari, harga gas telah kembali naik, sekali lagi dengan prospek cuaca yang lebih dingin mendorong peningkatan permintaan untuk pemanas dan pasokan yang sangat, sangat rendah dari Rusia, terutama melalui dua jalur pipa penting melalui Polandia dan Ukraina," ujarnya.

"Apakah Rusia sengaja menahan pasokan karena penundaan persetujuan pipa Nord Stream 2 dan krisis perbatasan Ukraina sulit untuk dikatakan. Tapi itu menyoroti kebijakan energi dan penyimpanan yang gagal di Eropa dan Inggris, yang telah membuat kawasan itu sangat bergantung pada impor gas," tambahnya. (E-4)



Sumber Berita: CNBC Indonesia.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load