Indonesia Bisa Umrah Desember, Ini Skenario Penyelenggaraannya

Selasa , 30 November 2021 | 19:33
Indonesia Bisa Umrah Desember, Ini Skenario Penyelenggaraannya
Sumber Foto: The Jakarta Post.
Ilustrasi.

JAKARTA - Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas menyatakan, jemaah umrah Indonesia sudah bisa berangkat ke Arab Saudi mulai Desember 2021 mendatang. 

Kepastian itu didapat, usai otoritas penerbangan Arab Saudi, General Authority of Civil Aviation (GACA), membuka pintuk masuk bagi Indonesia.

"Pada hari Kamis 25 November 2021 bahwa terhitung 1 Desember 2021 atau besok pagi memberikan izin penerbangan langsung kepada enam negara yaitu Indonesia Pakistan, Vietnam, Brazil, Mesir dan India," ujar Yaqut Cholil Qoumas saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Selasa (30/11/2021).

Ia mengungkapkan, hampir 60 ribu jemaah umrah Indonesia tertunda keberangkatannya akibat pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18.752 jemaah umrah diantaranya sudah memegang visa. Sehingga jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya menjadi prioritas yang akan diberangkatkan Desember nanti.

"Jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya, berdasarkan data yang ada pada sistem informasi pengawasan terpadu umrah dan haji khusus (siskopatuh) sampai saat ini terdapat 59.757 jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya karena pandemi Covid-19. Dari jumlah ini, terdapat 18.752 orang yang sudah memegang visa dan siap untuk diberangkatkan. Jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya menjadi prioritas yang diberangkatkan pada tahap awal dibukanya penyelenggaraan umrah pada bulan Desember nanti," tambahnya.

Menag Yaqut pun membeberkan skenario penyelenggaraan ibadah umrah yang disiapkan Kementerian Agama.  Skenario ini disusun oleh Kementerian Agama (Kemenag) bersama kementerian/lembaga terkait serta Asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).  "Meliputi skenario sebelum keberangkatan, ketika berada di Arab Saudi, dan saat tiba di Tanah Air," tambah Yaqut.

Yaqut menuturkan, sebelum keberangkatan ke Arab Saudi, jemaah wajib melaksanakan screening 1x24 jam sebelum keberangkatan secara terpusat di Asrama Haji Pondok Gede. "Hanya jemaah berusia 18-65 tahun, sudah divaksinasi dosis lengkap, dan memiliki hasil tes PCR negatif yang diberangkatkan umrah," sebutnya. 

Kemudian, jemaah yang akan berangkat wajib dilaporkan ke Kemenag untuk diproses visa dan dokumen keberangkatannya. "Keberangkatan jemaah umrah akan menggunakan satu pesawat full diisi dengan jemaah umrah, tanpa ada penumpang lain," ujar Yaqut. 

Sesampainya di Arab Saudi, jemaah wajib menjalani karantina selama tiga hari dimulai sejak tiba. Selama masa karantina, para jemaah akan dilarang keluar dari kamar hotel.

"Kemudian pelaksanaan ibadah umrah selama 9 hari termasuk perjalanan pulang-pergi. Lalu, akomodasi diisi 2 orang per kamar, makanan disajkikan dalam kemasan, dan transportasi mengikuti ketentuan Arab Saudi," kata Yaqut. "Umrah dilaksanakan satu kali, salat lima waktu di Masjidil Haram melalui Etamarna, ini aplikasi, dan bebas salat lima waktu di Masjid Nabawi," tambahnya. 

Setelah menjalani umrah dan akan kembali ke Indonesia, sebelum meninggalkan Arab Saudi, para jemaah juga wajib melakukan tes PCR. Menag menegaskan, hanya jemaah yang hasilnya negatif yang boleh kembali ke Tanah Air.

Setibanya di Indonesia, jemaah wajib melakukan tes PCR sesaat setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan wajib melakukan karantina sesuai ketentuan Satgas Covid-19. Yaqut menyebut, jemaah akan menjalani karantina di hotel yang telah dipilih PPIU dan mendapatkan legalisasi dari Satgas Covid-19. 



Sumber Berita: RRI.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load