Riset Terbaru: Molnupiravir Kurang Manjur

Sabtu , 27 November 2021 | 09:27
Riset Terbaru: Molnupiravir Kurang Manjur
Sumber Foto: Reuters.
Obat Covid-19, Molnupiravir.

JAKARTA - Kabar kurang baik, studi baru menunjukkan obat oral COVID-19 pertama di dunia besutan Merck and Co kurang efektif dalam mengurangi risiko rawat inap dan kematian. Hasil analisis terbaru dirilis perusahaan pada Jumat (26/11/2021).
Risiko kasus rawat inap dan kematian 'hanya' berhasil dipangkas hingga 30 persen dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo, berdasarkan pengamatan di lebih dari 1.400 pasien.

Bulan lalu, perusahaan menyebut data uji coba dari 775 pasien menunjukkan bahwa Molnupiravir efektif memangkas risiko kasus rawat inap dan kematian sebesar 50 persen.

Dari data uji coba terbaru, ada satu kematian dilaporkan pada relawan yang menerima Molnupiravir, sementara 9 kasus pada mereka yang menerima plasebo. Merck and Co sebelumnya sudah mengajukan izin penggunaan darurat (EUA) Molnupiravir di AS per 11 Oktober berdasarkan hasil uji klinis sementara.

Rilis analisis lengkap datang sebelum Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menerbitkan satu set dokumen pada hari Jumat yang dimaksudkan untuk memberi pengarahan kepada panel ahli luar yang akan bertemu pada hari Selasa untuk membahas apakah akan merekomendasikan izin EUA pil obat oral COVID-19 Molnupiravir.

Staf FDA meminta panel untuk mendiskusikan apakah manfaat obat lebih besar daripada risikonya dan apakah populasi untuk siapa obat tersebut harus diberi izin harus dibatasi. Mereka juga meminta komite untuk mempertimbangkan kekhawatiran apakah obat itu dapat mendorong virus untuk bermutasi dan bagaimana kekhawatiran itu dapat dikurangi.

Pemerintah Indonesia sebelumnya menyebut sudah mengamankan jutaan dosis Molnupiravir yang akan tiba per Desember 2021. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan menyebut Molnupiravir siap dipakai tahun 2022.

Selain Molnupiravir, Pfizer juga membuat obat oral COVID-19, diberi nama paxlovid. Seberapa menjanjikan?  Dikutip dari Al Jazeera, paxlovid, obat saingan yang dikembangkan Pfizer, disebut-sebut sebagai 'game changer' lantaran bisa digunakan sebagai perawatan awal di rumah untuk membantu mencegah rawat inap dan kematian.

Data dari pil Pfizer, setelah analisis penelitian yang melibatkan 1.200 peserta, menunjukkan penurunan 89 persen dalam risiko rawat inap atau kematian terkait virus Corona dibandingkan dengan plasebo.

Kedua obat eksperimental memiliki mekanisme aksi yang berbeda. Merck dirancang untuk memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus. Obat Pfizer, bagian dari kelas yang dikenal sebagai protease inhibitor, dirancang untuk memblokir enzim yang dibutuhkan virus Corona untuk berkembang biak.

Pekan lalu, pengawas obat-obatan Uni Eropa menyarankan negara-negara mereka dapat menggunakan pil antivirus COVID-19 Merck dalam situasi darurat yang dipicu oleh meningkatnya tingkat infeksi, sebelum persetujuan resmi pengobatan di seluruh blok.

Inggris Raya sudah menyetujui Molnupiravir. (E-4)



Sumber Berita: Detik.com.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load