Menggunakan Implan, Wanita Tunanetra Dapat Melihat Bentuk

Jumat , 22 Oktober 2021 | 09:23
Menggunakan Implan, Wanita Tunanetra Dapat Melihat Bentuk
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Dengan menggunakan implan otak, seorang wanita tunanetra berhasil merasakan sebentuk penglihatan buatan yang dikembangkan ilmuwan dari Universitas Miguel Hernández (Spanyol), Netherlands Institute of Neuroscience (Belanda) dan John A. Moran Eye Center di Universitas Utah (AS).

Eduardo Fernández, MD, PhD, dari Universitas Miguel Hernández membuat susunan elektroda penetrasi yang berhasil membentuk penglihatan sederhana bagi sukarelawan tunanetra berusia 58 tahun. Tim melakukan serangkaian percobaan dengan sukarelawan tunanetra di laboratorium mereka di Elche, Spanyol. Hasilnya merupakan lompatan ke depan bagi para ilmuwan yang berharap dapat membuat prostesis otak visual untuk meningkatkan kemandirian orang tunanetra.

Seorang ahli bedah saraf menanamkan rangkaian mikroelektroda yang terdiri dari 100 jarum mikro ke dalam korteks visual wanita tunanetra untuk merekam dan merangsang neuron yang terletak dekat dengan elektroda. Dia memakai kacamata yang dilengkapi dengan kamera video mini; perangkat lunak khusus mengodekan data visual yang dikumpulkan oleh kamera dan mengirimkannya ke elektroda yang terletak di otak. Susunan elektroda kemudian merangsang neuron sekitarnya untuk menghasilkan titik cahaya putih yang dikenal sebagai 'fosfena' untuk membuat gambar, seperti dikutip dari Nederlands Herseninstituut, Jumat (22/10/2021).

Wanita tunanetra itu adalah mantan guru sains dan telah tunanetra total selama 16 tahun pada saat penelitian. Dia tidak mengalami komplikasi dari operasi, dan peneliti menentukan bahwa implan tidak merusak atau berdampak negatif pada fungsi otak. Dengan bantuan implan, dia mampu mengidentifikasi garis, bentuk, dan huruf sederhana yang ditimbulkan oleh berbagai pola rangsangan. Untuk membantunya berlatih dengan prostesis, peneliti membuat video game dengan karakter dari acara televisi populer The Simpsons. Karena keterlibatan dan wawasannya yang luas, dia juga menjadi penulis bersama artikel tersebut.

"Hasil ini sangat menarik karena menunjukkan keamanan dan kemanjuran dan dapat membantu untuk mencapai impian lama banyak ilmuwan, yaitu mentransfer informasi dari dunia luar langsung ke korteks visual individu tunanetra, sehingga memulihkan bentuk penglihatan yang belum sempurna,” kata Prof. Eduardo Fernández. Dia juga menambahkan bahwa "meskipun hasil awal ini sangat menggembirakan, kita harus menyadari bahwa masih ada sejumlah pertanyaan penting yang belum terjawab dan banyak masalah yang harus diselesaikan sebelum prostesis visual kortikal dapat dianggap sebagai terapi klinis yang layak."

"Studi baru ini memberikan bukti prinsip dan menunjukkan bahwa temuan kami sebelumnya dalam eksperimen monyet dapat diterjemahkan ke manusia," kata Prof. P. Roelfsema, rekan penulis studi tersebut. "Pekerjaan ini kemungkinan akan menjadi tonggak untuk pengembangan teknologi baru yang dapat mengubah pengobatan ketunanetraan."

“Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan mobilitas lebih bagi penyandang tunanetra,” kata Prof. R. A. Normann, yang juga salah satu penulis penelitian tersebut. "Itu bisa memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi seseorang, pintu, atau mobil. Itu bisa meningkatkan kemandirian dan keamanan. Itulah yang sedang kami upayakan."

Tim peneliti berharap bahwa rangkaian percobaan berikutnya akan menggunakan sistem encoder gambar yang lebih canggih, yang mampu merangsang lebih banyak elektroda secara bersamaan dan menghasilkan gambar visual yang lebih kompleks. (E-4)



Sumber Berita: RRI.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load