Molnupiravir Dilirik Banyak Negara, RI Disarankan Tak Ikut Beli

Kamis , 14 Oktober 2021 | 20:24
Molnupiravir Dilirik Banyak Negara, RI Disarankan Tak Ikut Beli
Sumber Foto: Antara/Reuters.
Obat Covid-19, Molnupiravir.

JAKARTA - Kemunculan obat COVID-19 eksperimental besutan perusahaan farmasi Merck and Co, Molnupiravir, menjadi kabar gembira untuk dunia. Obat ini disebut mampu mencegah risiko dirawat di rumah sakit hingga meninggal akibat COVID-19.
Obat ini juga mulai dilirik beberapa di dunia, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Australia, Korea Selatan, Taiwan, hingga Indonesia.

Namun, ahli epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mewanti-wanti pemerintah Indonesia. Kementerian Kesehatan RI disarankan menahan negosiasi dengan perusahaan besar farmasi. "Waspada @KemenkesRI, jangan bernegosiasi dengan perusahaan besar farmasi. Pemerintah tetap fokus pada upaya pengendalian pandemi dengan meningkatkan vaksinasi," kata Pandu dalam cuitan Twitter pribadinya @drpriono1, Kamis (14/10/2021).

"Menekan kasus, bukan mengobati kasus. Mahal & sering gagal. Tak perlu melakukan uji klinik di Indonesia, jeratan pembelian," lanjutnya. Dalam postingannya, Pandu menjelaskan bahwa konsep kerja dari dari obat Molnupiravir ini diduga membuat kondisi virus error catastrophic. Molnupiravir bisa bekerja secara efektif hanya pada fase replikasi, yaitu lima hari pertama setelah seseorang terinfeksi.

"Molekul Molnupiravir diduga bikin virus keblinger (viral error catastrophic), pada fase replikasi yaitu 5 hari pertama sejak terinfeksi," ujar Pandu. "Obat tersebut sudah dipromosikan potensial buyer (negara) dengan perjanjian awal. Padahal, obat belum mendapat persetujuan FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS). Waspada Rawan Skandal," tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan telah mulai melakukan berbagai review serta uji klinis pada obat-obatan baru untuk mengatasi COVID-19. Dalam hal ini, Kemenkes akan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta beberapa rumah sakit vertikal.

Berbagai obat-obatan yang tinjau terdiri dari obat yang bersifat monoklonal antibodi hingga obat antivirus yang kini tengah ramai dibicarakan yaitu Molnupiravir besutan Merck and Co.

"Jadi obat-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya dan kita juga sudah merencanakan untuk beberapa sudah mulai uji klinis," kata Menkes dalam siaran pers PPKM, Senin (4/10/2021).

"Dan diharapkan di akhir tahun ini, kita sudah bisa mengetahui obat-obat mana yang kira-kira cocok untuk kondisi masyarakat kita," pungkasnya. (E-4)



Sumber Berita: Detik.com.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load