PM Inggris: Serangan 9/11 Gagal Pecah Belah Kami

Sabtu , 11 September 2021 | 13:53
PM Inggris: Serangan 9/11 Gagal Pecah Belah Kami
Sumber Foto dok/Reuters
PM Inggris Boris Johnson

LONDON - Serangan al Qaeda pada 11 September 2001 di Amerika Serikat gagal memecah belah orang-orang yang percaya pada kebebasan dan demokrasi, kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melalui pesan video memperingati 20 tahun peristiwa tersebut.

Hampir 3.000 orang tewas, termasuk lebih dari 2.600 orang di World Trade Center (WTC) di New York, setelah para pembajak mengambil alih sejumlah pesawat dan menggunakannya untuk menabrak menara kembar WTC dan gedung Pentagon di luar Washington. Sebanyak 67 warga negara Inggris turut menjadi korban tewas.

"Saat teroris menjatuhkan beban kesedihan dan penderitaan mereka, dan selagi masih ada ancaman hari ini, kini kami dapat mengatakan dengan perspektif 20 tahun bahwa mereka gagal menggoyahkan keyakinan kami pada kebebasan dan demokrasi," kata Johnson di video tersebut.

"Mereka gagal memecah belah negara kami, atau membuat kami meninggalkan nilai-nilai atau hidup dalam ketakutan abadi," katanya.

Pesan itu akan diputar di sebuah acara yang digelar di Taman Olimpiade London, lokasi didirikannya patung peringatan dari baja yang tersisa dari menara WTC yang hancur.

Pimpinan al Qaeda Osama bin Laden merencanakan serangan 9/11 dari Afghanistan. Hal itu telah mendorong invasi pimpinan AS ke negara tersebut dan dengan cepat menggulingkan kelompok Taliban pada 2001. Namun, pasukan Barat tetap berada di Afghanistan hingga dua dekade kemudian.

Johnson mengaitkan peringatan 9/11 dengan kembalinya pemerintahan Taliban baru-baru ini di Afghanistan, menyusul penarikan pasukan AS, Inggris dan pasukan NATO lainnya.

"Kejadian baru-baru ini di Afghanistan hanya memperkuat tekad kami untuk mengenang mereka yang direnggut dari kami, menghargai para penyintas dan mereka yang masih berduka, serta membuat kami berpegang teguh pada keyakinan dan demokrasi, yang akan selalu menang di atas semua musuh," katanya.(*)



Sumber Berita: Antara/Reuters
KOMENTAR

End of content

No more pages to load