Dianggap Gagal Tangani Pandemi, PM Thailand Dituntut Mundur

Senin , 02 Agustus 2021 | 00:47
Dianggap Gagal Tangani Pandemi, PM Thailand Dituntut Mundur
Sumber Foto Antara
Demonstrasi di Bangkok menuntut PM Thailand mundur karena dianggap gagal tangani

JAKARTA-Pengunjuk rasa di Thailand berkonvoi di jalan-jalan dengan mobil dan motor pada Minggu untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha.

Chan-ocha dianggap gagal menangani wabah ketika negara itu berjuang melawan lonjakan tertinggi kasus COVID-19 selama pandemi.

Di Bangkok, pengendara mobil membunyikan klakson dan pengendara motor memberi salam tiga jari --simbol perlawanan yang terinspirasi dari film "The Hunger Games-- ketika melintasi jalan sejauh 20 km dari Monumen Demokrasi di pusat ibu kota ke Bandara Internasional Don Muang.

"Kami nyaris tak bisa mencari nafkah sekarang, semua anggota keluarga kami terkena dampaknya," kata Chai, pengunjuk rasa berusia 47 tahun yang enggan menyebut nama lengkapnya, dari dalam mobil.

"Pemerintah gagal memberi vaksin tepat waktu dan banyak dari kami yang belum divaksin," kata dia. "Jika kami tidak turun ke jalan menyampaikan seruan, pemerintah akan mengabaikan kami."

Protes serupa juga digelar di provinsi-provinsi lain.

Negara di Asia Tenggara itu berencana memvaksinasi 50 juta orang hingga akhir 2021.

Sejauh ini baru 5,8 persen dari 66 juta lebih penduduknya yang sudah divaksin lengkap, sementara warga yang baru menerima satu dosis mencapai 21 persen.

Pada Minggu, Thailand melaporkan 18.027 kasus baru dan 133 kematian akibat COVID-19, sehingga totalnya menjadi 615.314 kasus dan 4.990 kematian.

Dikabarkan bahwa pemerintah akan memperluas area pengetatan mobilitas masyarakat hingga mencakup 40 persen dari total penduduk negara itu.

Bloomberg melaporkan Minggu (1/8), pengetatan yang dilakukan di 13 provinsi termasuk Bangkok dan wilayah sekitarnya bakal dilanjutkan hingga 31 Agustus 2021. Berbagai restriksi yang diterapkan di 13 provinsi itu akan diperluas ke 16 provinsi lainnya sejak 2 Agustus.

Beberapa larangan yang diberlakukan adalah penutupan toko-toko non esensial di mal, makan di restoran, makan bersama lebih dari lima orang, jam malam pukul 21.00-04.00 waktu setempat, serta bepergian antar provinsi. 

Satuan tugas Covid-19 Thailand, Center for Covid-19 Situation Administration, akan mengevaluasi situasi setelah 2 pekan. Jika kondisinya membaik, maka berbagai larangan itu akan dilonggarkan di beberapa daerah pada 18 Agustus, demikian disampaikan juru bicara Apisamai Srirangsan. 



Sumber Berita: Antara
KOMENTAR

End of content

No more pages to load