Kemanjuran Vaksin Pfizer Turun Menjadi 84 Persen

Minggu , 01 Agustus 2021 | 10:30
Kemanjuran Vaksin Pfizer Turun Menjadi 84 Persen
Sumber Foto: Tribbunnews.
Vaksin Pfizer.

JAKARTA - Kemanjuran vaksin Pfizer-BioNTech terhadap SARS-CoV-2 berada di 96,2% pada tujuh hari hingga dua bulan setelah dosis kedua dan kemudian menurun menjadi 83,7% setelah empat bulan, menurut laporan awal dari Pfizer.

Laporan awal, yang berisi data terbaru dari uji klinis orisinal, menemukan penurunan rata-rata kemanjuran vaksin sebesar 6% setiap dua bulan. Para peneliti mengatakan bahwa uji coba untuk mengevaluasi kemanjuran vaksin penguat setelah interval yang lebih lama sedang berlangsung. Vaksin penguat di Inggris diperkirakan akan diluncurkan ke orang-orang yang paling rentan terhadap covid-19 mulai September, seperti dikutip dari The BMJ, Minggu (1/8/2021).

Sekitar 44.000 orang berusia di atas 16 tahun direkrut untuk uji klinis dari Juli hingga Oktober 2020, termasuk peserta dari AS, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, Jerman, dan Turki. Dari jumlah tersebut, setengahnya diberi vaksin Pfizer dan setengahnya diberi plasebo, larutan garam. Studi ini juga melibatkan sekitar 2.200 peserta berusia 12 hingga 15 tahun di 29 lokasi AS, yang direkrut dari Oktober 2020 hingga Januari 2021, yang juga dialokasikan secara acak 1:1 untuk menerima vaksin atau plasebo.

Laporan awal mengatakan bahwa dari tujuh hari setelah dosis kedua, kemanjuran sebessar 86-100% teramati di berbagai profil demografis, termasuk usia, jenis kelamin, ras/etnis, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko COVID-19, seperti indeks massa tubuh yang tinggi dan faktor penyakit penyerta lainnya. Vaksin ini dilaporkan sangat manjur di berbagai wilayah geografis termasuk Amerika Utara, Eropa, Afrika Selatan, dan Amerika Latin.

Dari sisi keamanan, para peneliti mencatat bahwa terjadi penurunan nafsu makan, lesu, asthenia, malaise, keringat dingin, dan hiperhidrosis sebagai efek samping yang disebabkan vaksin Pfizer. Secara keseluruhan, beberapa peserta memiliki efek samping yang serius atau efek samping yang menyebabkan dikeluarkan dari studi.

Para peneliti mencatat adanya keterbatasan pada penelitian ini, termasuk tidak melihat apakah vaksin dapat mencegah infeksi tanpa gejala. (E-4)

 



Sumber Berita: RRI.co.id.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load