Tri Hita Karana: Akselerasi Kolaborasi Indonesia dan AS Tangani Masalah Iklim

Rabu , 23 Juni 2021 | 22:30
Tri Hita Karana: Akselerasi Kolaborasi Indonesia dan AS Tangani Masalah Iklim
Sumber Foto: United in Diversity (UID).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Urusan Investasi Luhut Pandjaitan dalam forum virtual Tri Hita Karana, Rabu (23/6/2021).

JAKARTA - Indonesia dan Amerika Serikat memperluas kerjasamanya untuk mempercepat transisi energi terbarukan untuk menghasilkan karbon bersih nol emisi. Pada Rabu (23/06/2021), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Urusan Investasi Luhut Pandjaitan dan Utusan Khusus untuk Presiden Amerika Serikat untuk Iklim John Kerry, berkolaborasi dalam "Engineers Unite in Diversity" inisiatif baru yang digelar secara virtual lewat Zoom yang memperkuat tujuan-tujuan ini.

“Sektor swasta dan masyarakat sipil hebat dalam menemukan solusi baru. Kita berada pada titik awal dekade pencapaian Kesepakatan Iklim Paris dan SDG PBB, dan mendorong kesuksesan pemerintah di seluruh dunia untuk membangun koalisi yang luas. Saya berharap banyak yang bisa bergabung dengan inisiatif itu--yang diperkenalkan hari ini di bawah bendera Tri Hita Karana. Ini adalah program yang dapat memberikan dampak nyata dan membantu kami memenuhi target yang telah ditetapkan,” kata Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Forum ini diadakan dengan tujuan memperluas kolaborasi dan mendorong transisi ke ekonomi rendah karbon dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang lebih luas. Forum ini jadi wadah organisasi, pemimpin, untuk bertukar pikiran dan inovasi sehingga mampu mengukur dampak yang lebih besar dalam mengumpulkan sumber daya untuk mengatasi beberapa tantangan terbesar di masa kini.

Forum Iklim Tri Hita Karana yang digelar selama kurang lebih dua jam jadi salah satu implementasi KTT yang dipimpin AS tentang Iklim diadakan pada bulan April tahun ini. Dalam KTT tersebut, 40 pemimpin dunia bersama-sama berupaya mengatasi masalah krisis iklim. Sejak itu, Indonesia dan Amerika Serikat telah mendirikan empat gugus tugas sektoral dengan perwakilan dari pemerintah, ahli teknis dan sektor swasta investor untuk dikembangkan untuk mendapatkan hasil konkrit yang dapat dicapai dalam mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon.

“Kami berterima kasih atas fokus pemerintahan Biden pada masalah iklim. Pemerintah Indonesia telah telah menunjukkan kepemimpinan internasional di bidang ini melalui komitmen kami untuk melindungi salah satu hutan hujan utuh terbesar di dunia, dan cadangan terbesar lahan gambut tropis yang kaya CO2 dan bakau. Kami siap berbuat lebih banyak untuk mengatasi krisis iklim yang dihadapi dunia, dan menyambut kesempatan untuk berkolaborasi dengan pemerintah AS dan sektor swasta untuk melakukan transisi ke ekonomi rendah karbon,” kata Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan. Ia menambahkan “Indonesia mengundang Amerika Serikat untuk bersama-sama membawa isu lingkungan dan perubahan iklim ke G20 pada 2022”.

“Perubahan iklim adalah masalah mendesak bagi ASEAN, dan kami menyadari pentingnya berbasis alam solusi dan peran kunci pelestarian modal alam untuk aksi iklim. Mendesak untuk kita memperkuat persoalan di bidang iklim, dan saat kami mulai membangun kembali ekonomi kami setelah COVID-19, kami telah memiliki kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi dalam sambutannya di Forum Iklim Tri Hita Karana.

Forum Iklim Tri Hita Karana dihadiri lebih dari 350 peserta dari kalangan pemerintah, masyarakat sipil dan sektor swasta di Indonesia Amerika Serikat. Pembicara terkemuka lainnya di Forum termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Suharso Monoarfa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso.

Hadir pula Profesor Robert Kaplan, ekonom dari Harvard Business School, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Satu Kahkonen, Penasihat Senior Utusan Khusus Presiden AS untuk Masalah Iklim Reed Schuler, Asisten Sekretaris Departemen Keuangan AS Larry McDonald, Penasihat Urusan Iklim Departemen Keuangan AS John Morton, Ketua Nextech Invest Alfred Scheidegger, Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi, Presiden Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB Jeffrey Sachs. (E-4)



Sumber Berita:United in Diversity (UID).
KOMENTAR

End of content

No more pages to load