Jet Tempur Rusia Bombardir Suriah, 200 Militan Tewas

Selasa , 20 April 2021 | 11:07
Jet Tempur Rusia Bombardir Suriah, 200 Militan Tewas
Sumber Foto AFP/Karam Al-Masri
Sebuah kawasan di Suriah.

MOSKOW - Otoritas Rusia mengklaim telah menewaskan hingga 200 militan di Suriah dalam serangan udara yang ditargetkan ke markas 'teroris' di sebelah timur laut kota Palmyra, Provinsi Homs. Militan di wilayah tersebut diduga merencanakan serangan menjelang pemilihan presiden (pilpres) bulan depan.

Seperti dilansir Kantor Berita AFP, Selasa (20/4/2021), klaim tersebut disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan terbaru pada Senin (19/4/2021) waktu setempat. Rusia merupakan sekutu penting rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011.

"Setelah mengonfirmasi data melalui berbagai saluran di lokasi fasilitas teroris, pesawat-pesawat Angkatan Udara Rusia melancarkan serangan udara," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

"Dua tempat persembunyian dihancurkan, hingga 200 militan (tewas), 24 truk pikap dengan senapan mesin kaliber besar, juga sekitar 500 kilogram amunisi dan komponen untuk membuat alat peledak rakitan," imbuh pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut tidak menyebut secara spesifik soal tanggal pelaksanaan serangan maupun kelompok yang menjadi target serangan.

Disebutkan Kementerian Pertahanan Rusia bahwa targetnya merupakan 'pangkalan kamuflase' di mana 'kelompok-kelompok teroris' merencanakan serangan di Suriah dan merakit peledak.

"Mereka merencanakan serangan teroris dan serangan terhadap badan-badan pemerintahan di kota-kota besar untuk mendestabilisasi situasi di negara tersebut menjelang pemilihan presiden di Suriah," sebut Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya.

Pilpres Suriah dijadwalkan akan digelar pada 26 Mei mendatang. Pilpres ini merupakan yang kedua digelar sejak konflik Suriah pecah tahun 2011, dengan penindakan unjuk rasa antipemerintah menewaskan lebih dari 388 ribu orang. Diperkirakan Assad akan tetap berkuasa di negara yang dilanda konflik itu.

Rusia mulai meluncurkan operasi intervensi militer terhadap konflik Suriah sejak tahun 2015, demi membantu membalikkan gelombang pertempuran.

Pada Senin (19/4/2021) waktu setempat, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut para 'teroris' itu mendapat pelatihan di beberapa kamp yang ada di area Provinsi Homs yang tidak dikuasai rezim Suriah. "Termasuk di area Al-Tanf, yang dikuasai oleh militer AS (Amerika Serikat)," imbuh pernyataan itu.

Pada Februari lalu, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran di wilayah Suriah bagian timur. Rusia menuntut AS menghormati integritas wilayah Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pada saat itu menyatakan Rusia ingin mengetahui rencana AS di Suriah.(*)



Sumber Berita: Detik.com
KOMENTAR

End of content

No more pages to load