Indonesia Tempati Urutan Kedua Vaksinasi Tercepat di ASEAN

Minggu , 07 Maret 2021 | 15:05
Indonesia Tempati Urutan Kedua Vaksinasi Tercepat di ASEAN
Sumber Foto: Sekretariat Negara.
Vaksinasi massal yang digelar di Gelora Bung Karno.

JAKARTA - Dunia tengah berlomba mengatasi pandemi dengan memberikan vaksinasi terhadap warga. Dalam hal ini, Indonesia menempati urutan kedua dalam vaksinasi tercepat di ASEAN. Perlombaan vaksinasi tidak terelakkan karena vaksinasi menjadi kunci untuk memutus mata rantai pandemi, yang pada gilirannya akan kembali mempercepat laju perekonomian negara masing-masing. Sebab, nantinya tak akan ada lagi pembatasan sosial.

Tidak heran, vaksin yang baru dikembangkan kini mendapat izin edar darurat, agar bisa segera disempurnakan dan dipakai secara massal. Setidaknya ada lima vaksin yang populer digunakan: Pfizer (Amerika Serikat/AS), Sinovac (China), AstraZeneca (Eropa), Sputnik (Rusia), Novavax (AS), dan Johnson & Johnson (AS).

Di luar itu, ada vaksin Covax yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk menekan efek egosentrisme negara maju dalam berebut vaksin. Terbaru, Italia memblokir pengiriman vaksin AstraZeneca-Oxford ke Australia.

Menurut laporan Reuters dan Financial Times pada Kamis (4/3/2021), perusahaan farmasi AstraZeneca meminta izin pengiriman vaksin dari pabriknya di Anagni Italia berjumlah 250.000 dosis. Namun, pemerintah Italia menolak permintaan tersebut.

Pemblokiran terjadi terkait kontrol sementara Uni Eropa atas ekspor vaksin Covid-19 yang dibuat di Benua Biru, menyusul tersendatnya pasokan vaksin AstraZeneca di sana. Manajemen AstraZeneca, sebagaimana diberitakan CNBC Internasional, menolak berkomentar mengenai itu.

Di tengah kompetisi demikian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis vaksinasi di Indonesia bisa selesai dalam 1 tahun. Dia memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mempercepat proses vaksinasi tersebut.

"Saya juga telah perintahkan proses vaksinasi kurang lebih kepada 181,5 juta rakyat Indonesia bisa diselesaikan sebelum akhir tahun 2021 ini," tuturnya beberapa waktu lalu dalam pernyataan resmi yang diunggah di kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Saat ini, Indonesia telah mendapat pasokan 11,7 juta vaksin tambahan untuk vaksinasi tahap ke-2. Menurut Kementerian Kesehatan, pemerintah tahun ini menargetkan pengamanan 340,5 juta dosis vaksin dari lima merek, yakni Sinovac (125,5 juta), AstraZeneca (59 juta), Covax (54 juta), Novavax (52 juta), dan Pfizer (50 juta).

Sampai dengan kuartal I-2022, diharapkan ada tambahan 86,3 juta dosis vaksin dari kelima produsen tersebut. Dengan demikian, pada periode tersebut diharapkan terkumpul 426,8 juta dosis vaksin untuk diberikan kepada 260 juta penduduk Indonesia.

Lalu bagaimana kemajuan vaksinasi di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga? Per Sabtu (6/3/2021), Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan bahwa jumlah penerima dosis kedua vaksin Covid-19 di Indonesia telah mencapai 1.130.524 penduduk. Angka itu setara dengan 2,8% target vaksinasi pemerintah yang diproyeksikan menjangkau 40.349.051 warga. Sementara itu, penerima dosis pertama vaksin Covid-19 menyentuh angka 2.552.265 atau setara 6,3% dari target.

Sebagaimana diketahui, vaksinasi Covid-19 dengan menggunakan vaksin Sinovac asal China dilakukan melalui dua tahap penyuntikan. Penerima suntikan kedua, jumlahnya setara dengan 0,4% dari jumlah penduduk di Indonesia. Masih sangat kecil.

Sebagai perbandingan, Singapura saat ini telah menyuntikkan vaksin tahap dua ke 215.000 warganya, atau setara dengan 3,7% populasinya. Ini menempatkan Negara Kota tersebut di posisi puncak negara dengan laju vaksinasi terpesat di Kawasan.

Namun, kinerja vaksinasi Indonesia patut diacungi jempol karena sejauh ini memang hanya kalah jika dibandingkan dengan Singapura. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan populasi terpadat di Asia Tenggara. Menurut catatan Our World in Data, posisi Indonesia lebih baik dari lima negara anggota ASEAN dalam hal jumlah suntikan per 100 penduduk.

Hanya saja, bukan berarti kita boleh bernafas lega. Pasalnya, jumlah penerima suntikan vaksin tahap kedua di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan rerata global yang telah mencapai angka 0,8% dari populasi dunia.

Bersamaan dengan program vaksinasi dua dosis yang dijalankan di negeri ini pada 30 Januari 2021, jumlah rata-rata kasus baru harian dalam sepekan terus menurun di Indonesia. Data Worldometers mencatat puncak rerata harian tertinggi dicapai pada 31 Januari, yakni 12.865 kasus.

Namun selepas itu, berbarengan dengan pengenaan Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan setelah efek vaksin mulai muncul (meski dalam skala yang masih sangat terbatas), angka rerata kasus Covid-19 harian terus turun hingga mencapai 6.457 kasus pada Jumat (5/3/2021) kemarin.

Hal ini memunculkan harapan bahwa realisasi vaksinasi di Indonesia bakal lebih cepat dibandingkan dengan proyesi Bloomberg sebelumnya yang meramal bahwa Indonesia bakal perlu 10 tahun untuk memvaksin seluruh warganya. Kunci keberhasilan Indonesia, sejauh ini, adalah amannya pasokan vaksin, karena mayoritas vaksin yang dipakai berasal dari China, dengan porsi nyaris 40%. Sebagaimana diketahui, Indonesia menjadi bagian dari Health Silk Road Initiative.

Dengan demikian risiko dari sisi pasokan berkurang, dan hanya menyisakan tantangan atau risiko dari sisi pelaksanaan di lapangan, yakni sejauh mana pemerintah bisa mengatasi kendala pendataan warga penerima vaksin dan mencapai posisi mereka di 6.000 pulau di Nusantara. (E-4)



Sumber Berita: Detik.com.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load