Vaksin "Dendritik" Nusantara dari Indonesia Masuk Daftar WHO

Senin , 01 Maret 2021 | 17:30
Vaksin
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Vaksin COVID-19 bernama Vaksin Nusantara, sebelumnya vaksin Joglosemar, yang diprakarsai Terawan Agus Putranto sempat membuat heboh. Pasalnya vaksin dianggap sebagian ahli dibuat dengan metode yang tidak biasa, yaitu menggunakan platform sel dendritik.

Secara teori vaksin bekerja dengan langkah pertama mengambil sel dendritik (komponen sel darah putih) dari seseorang. Sel tersebut lalu 'dikenalkan' pada antigen dari virus SARS-COV-2 di laboratorium, kemudian disuntikkan kembali ke dalam tubuh. Harapannya sel dendritik yang sudah mengenali virus tersebut akan memicu respons imun.

"Untuk vaksin COVID dengan sel dendritik ini pertama kali di dunia," kata salah satu peneliti Vaksin Nusantara, Dr Yetty Movieta Nency, SPAK, saat ditemui di RSUP dr Kariadi Semarang beberapa waktu lalu. 

Dari 74 vaksin tersebut, ada dua kandidat vaksin yang diketahui memakai platform sel dendritik. Satu vaksin dikembangkan oleh China dan satunya lagi Indonesia. Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan setidaknya sampai tanggal 26 Februari 2021 sudah ada 74 kandidat vaksin COVID-19 di dunia yang dalam tahap uji klinis dan masuk dalam daftar WHO.

Vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik dari Indonesia yang terdaftar di WHO disebut dikerjakan oleh AIVITA Biomedical, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), dan Kementerian Kesehatan.

"Kalau kita lihat (kandidat -red) yang nomor 51 di Indonesia ini bahwa memang partisipannya 27 orang uji klinis fase satu. Dilakukan sejak Desember sampai 31 Januari 2021," kata Prof Tjandra dalam webinar yang disiarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Senin (1/2/2021).

"Nanti kalau fase satunya lewat tentu akan diteruskan fase dua, tiga, dan seterusnya. Mereka mentargetkan kalau semua berjalan akan sampai 2022," pungkasnya. (E-4) 

 
 


Sumber Berita: Detik Health.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load