Hambali Asli Cianjur, 18 Tahun Mendekam Di Sel Guantanamo

Jumat , 22 Januari 2021 | 19:34
Hambali Asli Cianjur, 18 Tahun Mendekam Di Sel Guantanamo
Sumber Foto Merdeka.com
Tempat tahanan militer AS di Guantanamo

JAKARTA--Kurang lebih 18 tahun setelah peristwa Bom Bali, Kejaksaan Militer Amerika Serikat (AS) menetapkan Hambali sebagai tersangka.

Hambali yang berasal dari Jamaah Islamiyah ditetapkan sebagai tersangka bersama dua teroris lainnya yang juga terlibat dalam peristiwa Bom Bali (2002) dan Bom Marriot (2003).

Hambali alias Ridwan Isamudin lahir di Cianjur, 4 April 1964, anak kedua dari 12 bersaudara. Ia ditangkap oleh tentara AS pada 2003. Berita penangkapan Ketua Operasional Jamaah Islamiyah ini disampaikan langsung Presiden AS George Walker Bush di Pangkalan Udara Marinir Miramar, California, AS, Kamis (14/8/2003) malam WIB.

Di hadapan ratusan Marinir AS, Bush mengatakan Hambali adalah seorang teroris besar dan pembunuh terkenal. Ia juga rekan dekat dari otak penyerangan 11 September 2001, Khalik Sheik Muhammad. Bush menegaskan, Hambali adalah seorang teroris dunia yang paling mematikan. Ia dicurigai merencanakan operasi teroris dunia, termasuk yang terjadi di Bali, serta serangan-serangan lainnya belakangan ini.

Hambali ditangkap di Kota Ayutthaya, Thailand. Penangkapan Hambali tersebut juga sangat penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengungkap sejumah kasus pemboman, antara lain Bom Bali dan Hotel JW Marriot di Jakarta.

Hambali dikenal sebagai pimpinan Jamaah Islamiyah, sel teroris di Singapura dan Malaysia. Data intelijen AS menyebutkan, warga Cianjur, Jawa Barat, itu dilaporkan pernah bertemu dengan pembajak dan pengebom Gedung World Trade Center, New York, AS, dua tahun silam.

Sumber intelijen tadi juga menyebutkan bahwa Hambali bersama seorang anggota JI yang telah ditangkap, Yazid Sufatt pernah bersua dengan dua pembajak pesawat Tragedi WTC. Pertemuan terjadi Januari 2000 di apartemen milik Yazid di Kuala Lumpur. Dua pengebom WTC itu adalah Khalid al-Midhar and Nawaf al-Hazmi yang akhirnya tewas dalam aksi pengeboman di Pentagon.

Nama Hambali disebut-sebut polisi berkaitan dalam kasus peledakan di Bali. Menurut Kepala Bagian Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Saleh Saaf, ada kemungkinan Hambali terlibat dalam kasus tersebut. Apalagi, ia juga terlibat dalam pengeboman di sejumlah daerah di Indonesia "Dia adalah tersangka, the most wanted yang dicari oleh kita dan negara lain," kata Saleh Saaf ketika itu.

Dikutip dari Liputan6.com, ketika itu Saleh Saaf menyatakan keyakinannya bahwa Hambali mengenal pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir. Keyakinan ini berdasarkan pemeriksaan sejumlah saksi di Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Diabaikan Trump

Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan kenapa Hambali beru sekarang ditetapkan sebagai tersangka. Namun, apabila menilik kembali bagaimana perkara diproses dan disidangkan di Guantanamo beberapa tahun terakhir, hal itu lebih ke perkara teknis dan prioritas militer AS.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (22/1/2021), seorang teroris di Guantanamo tidak bisa ditetapkan sebagai tersangka hanya dengan bermodal penetapan dari Jaksa Militer. Persetujuan dari para pejabat di Komisi Militer juga diperlukan.

Dalam kasus Hambali, ia sudah nyaris menjadi tersangka pada tahun 2017. Adalah kepala jaksa militer saat itu, Brigadir Jenderal Mark S. Martins, yang menyetujui penetapan tersebut. Namun, sikap serupa tidak didapat dari Komisi Militer.

Hal itu diperparah dengan mantan Presiden AS Donald Trump tidak memiliki agenda yang berkaitan dengan penindakan terorisme. Alhasil, sepanjang pemerintahannya, kasus Hambali tidak pernah sampai ke pengadilan.

Hal itu berubah ketika Joe Biden naik menjadi Presiden AS yang baru. Sehari setelah ia dilantik, Pentagon langsung melaporkan bahwa Hambali telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama dua tangan kanannya yang berasal dari Malaysia.

"Ketiganya dijerat dengan pasal konspirasi, pembunuhan, percobaan pembunuhan, tindak kekerasan dengan sengaja, terorisme, menyerang warga sipil, perusakan properti, serta pelanggaran hukum peperangan," ujar Kementerian Pertahanan Amerika.

Pertahankan Guantanamo

Beberapa pihak menduga, penetapan Hambali sebagai tersangka, sehari setelah Joe Biden dilantik, adalah upaya untuk mempertahankan Penjara Guantanamo, tempat Hambali ditahan sejak 2006.

Mantan pejabat era Presiden Barack Obama, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa timing penetapan tersebut terlalu berdekatan dengan masuknya Biden.

Joe Biden, ketika masih menjadi Wakil Presiden, adalah suara yang vokal mendorong penutupan Guantanamo.

Saat itu, Guantanamo tengah disorot karena praktik penyiksaan dan interogasinya. Harapan Joe Biden, para penghuni Guantanamo seperti Hambali bisa dipindahkan ke penjara lain atau diadili di Pengadilan Sipil Amerika, bukan militer.

Sehari setelah menjadi Presiden Amerika ke-46, Joe Biden kembali menyuarakan niatnya menutup Guantanamo.

Kali ini, niat tersebut disampaikan via Menteri Pertahanan barunya, Lloyd Austin. Saat menjalani proses wawancara di Kongres Amerika, ia menegaskan pemerintahan Joe Biden ingin menutup Guantanamo.

"Kami tidak berniat untuk membawa tahanan baru ke sana dan kami akan berupaya untuk menutupnya," ujar Austin.

Sekarang, dengan diprosesnya Hambali, Guantanamo bertahan. Kurang lebih butuh 30 hari untuk kasus Hambali disidangkan di pengadilan militer Guantanamo. Komisi Militer belum menentukan siapa yang akan menyidang Hambali mengingat protokol Covid-19 harus dipatuhi.

"Setelah inagurasi (Joe Biden), rezim penyiksaan menekan tombol panik," ujar pengacara Hambali, James Valentine, dikutip dari New York Times.



Sumber Berita: Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load