Beijing Diguncang Isu Pencabutan Kebijakan Nol Covid, Ketua Partai CPC Sebut Situasi Parah dan Rumit

- Minggu, 4 Desember 2022 | 13:31 WIB
Kemarahan publik memuncak pada akhir pekan ketika ratusan orang berkumpul di kampus universitas dan kota-kota di seluruh negeri menuntut diakhirinya kebijakan nol COVID 19.
Kemarahan publik memuncak pada akhir pekan ketika ratusan orang berkumpul di kampus universitas dan kota-kota di seluruh negeri menuntut diakhirinya kebijakan nol COVID 19.

SINAR HARAPAN - KOTA Beijing diguncang isu pencabutan kebijakan nol Covid 19 yang dalam tiga tahun terakhir diimplementasikan secara ketat di wilayah ibu kota China itu.

Beijing akan mencabut secara penuh pembatasan-pembatasan anti-pandemi mulai besok, mengakhiri tes massal asam nukleat, dan penerapan kode kesehatan, demikian isu yang menyebar secara daring sejak Sabtu 3 Desember 2022 hingga Minggu.

Rumor tersebut segera dibantah oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (CDC) Kota Beijing.

Baca Juga: China Berduka, Kibarkan Bendera Setengah Tiang Bagi Mendiang Mantan Presiden Jiang Zemin

Pada saat situasi pandemi di Beijing stabil, penularan di level masyarakat masih tinggi sehingga tidak boleh dianggap remeh, demikian CDC dikutip media-media China.

"Jadilah orang pertama yang bertanggung jawab atas kesehatan Anda," seru CDC menanggapi rumor tersebut.

Dalam pertemuan dengan satuan tugas bentukan CDC, Ketua Partai Komunis China (CPC) Kota Beijing Yi Li, mengatakan bahwa situasi pandemi masih parah dan rumit.

Baca Juga: Dubes China: Kunjungan Xi ke Jepang Sangat Berharga untuk Hubungan Bilateral China dan Jepang

Ia juga menyerukan pemangku kepentingan bekerja efektif berdasarkan ilmu pengetahuan dalam mengatasi lonjakan kasus positif Covid 19 terkini guna menghindari pandemi baru.

Satuan Tugas Anti-Pandemi bentukan Dewan Pemerintahan China telah mengeluarkan pernyataan menanggapi tuntutan publik atas diberlakukan paket 20 aturan baru anti-pandemi.

Ada tiga hal yang dipetakan Dewan Pemerintahan terkait gejolak sosial yang meletus di berbagai kota di China.

Baca Juga: Kasus Covid 19 China Makin Tinggi, Xi Jinping Tolak Saran Penggunaan Vaksin Buatan Barat

Pertama, kurangnya ketelitian dalam menerapkan upaya pencegahan pandemi sehingga sangat mempengaruhi mata pencaharian dan produktivitas masyarakat.

Kedua, penanganan yang tidak fleksibel dan kakunya sikap petugas di lapangan yang mengakibatkan buruknya komunikasi dengan masyarakat. Dan ketiga, penyampaian informasi anti-pandemi kepada masyarakat yang tidak tepat waktu dan tidak memadai.

Atas arahan dari pusat kepada beberapa daerah tersebut, Kota Beijing tidak lagi mempersyaratkan hasil tes negatif Covid 19 yang berlaku 48 jam kepada penumpang kendaraan umum.

Baca Juga: Apple Beberkan Berupaya Kurangi Ketergantungan dari Pabrik di China dan Taiwan, Pindah ke India dan Vietnam

Mal dan pusat-pusat perbelanjaan dibuka namun dengan tetap menunjukkan hasil negatif 48 jam bagi pengunjung dan aturan pembelian obat-obatan di apotek dan toko obat juga mulai dilonggarkan.

Warga Beijing tidak harus mendaftar dengan melampirkan informasi diri saat membeli obat flu, demam, dan anti-infeksi lainnya di apotek atau toko obat.

Di Beijing masih ditemukan 1.392 kasus positif baru COVID-19 pada Sabtu 3 Desember 2022.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X