Pameran Bio-Energetic Architecture di G20 Bali

- Minggu, 13 November 2022 | 20:28 WIB
(Kiri-kanan): Anneke van Waesberghe yang visioner, pelopor, penulis, desainer, wirausahawan sosial dan Mayank Barjatya,  pelopor biologi bangunan dan energetika manusia. (Rilis pers)
(Kiri-kanan): Anneke van Waesberghe yang visioner, pelopor, penulis, desainer, wirausahawan sosial dan Mayank Barjatya, pelopor biologi bangunan dan energetika manusia. (Rilis pers)

SINAR HARAPAN - PAMERAN Bio-Energetic Architecture berlangsung di Kura Kura Bali, pulau Serangan, Denpasar 14-20 November 2022 atau selama penyelenggaraan pertemuan puncak G20, dan selanjutnya akan terbuka untuk umum mulai 21 November sampai 30 November. Demikian siaran pers dari United in Diversity (UID), organisasi nirlaba yang mensponsori pameran ini.

Bio-Arsitektur merupakan sebuah seni dan ilmu merancang ruang yang terilhami dari prinsip energik alami. Pameran itu menampilkan bahan-bahan alami terbuat dari limbah pertanian dan produk sampingan, yang dapat membantu memperbaiki energi rumah atau tempat kerja sehingga menciptakan ruangan yang lebih sehat.

"Secara ilmiah telah dibuktikan, berdasarkan prinsip arisitektur bio-energik kita akan mendapatkan keseimbangan dalam hidup saat dikelilingi oleh bahan-bahan energik alami," kata Dr. Suyoto, Vice President UID dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/11/2022).

Baca Juga: UID-YIUS-Gajah Tunggal Sumbang Alkes bagi 47 Puskesmas di Kalteng

Suyoto mengatakan, untuk pameran Bio-Energetic Architecture ini, dikembangkan sebuah bangunan bio-living hibrida dengan struktur atap, dinding, dan lantai yang terbuat dari basalt, bubur kertas daur ulang, dan diperkuat oleh bio-epoksi alami.

Bahan-bahan tersebut membentuk sebuah struktur hibrida yang kuat, dengan 2,5 kali lebih kuat dari baja paduan dan 1,5 kali kekuatan serat kaca. Basalt 4 kali lebih ringan dari baja, namun 2,5 kali lebih kuat. Tahan api; anti jamur; tahan air; dan bahkan anti peluru jika diperlukan; tahan gempa dan badai; serta memberikan perlindungan elektromagnetik (G5). Sebuah bangunan contoh dengan bahan-bahan tersebut ditampilkan pada pameran tersebut.

Basalt merupakan batu vulkanik yang lebih banyak melapisi permukaan bumi ketimbang jenis bebatuan lainnya, dan serupa dengan basalt yang ditemukan di Venus dan Mars. Ini adalah jenis batuan beku vulkanik gelap yang terbentuk dari pendinginan cepat lava. Disebutkan, "basalt membantu menjejakkan Anda ke bumi dan menjadi media penyembuhan yang sangat baik saat menghadapi perubahan hidup yang menentukan. Memberikan kepercayaan diri, stabilitas, dan energi transformasi".

Baca Juga: Tri Hita Karana: Akselerasi Kolaborasi Indonesia dan AS Tangani Masalah Iklim

Penggunaan bahan bangunan struktural energik seperti basalt sebagai pengganti baja, beton geopolimer/beton kenaf, atau bata Reclea yang terbuat dari abu terbang (fly ash, residu sisa pembakaran) akan meningkatkan kehidupan kita. Bahkan mampu mengurangi stres yang disebabkan oleh bahan bangunan tradisional yang beracun.

Pameran ini juga menampilkan beberapa contoh bahan-bahan limbah pertanian yang digunakan untuk industri bangunan, serta panel surya terbuat dari limbah papaya dan furnitur dari jagung.

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: Rilis pers

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X