• Senin, 15 Agustus 2022

Catatan Internasional: Sri Lanka Di Ambang Kebangkrutan

Banjar Chaeruddin
- Minggu, 26 Juni 2022 | 21:08 WIB

Situasi Sri Lanka mencekam (medcom.id)

SINARHARAPAN--Sri Lanka berjuang untuk mengamankan pasokan bahan bakar segar, ketika negara berpenduduk 22 juta jiwa yang sedang dilanda krisis itu  hanya memiliki 15.000 ton bensin dan solar untuk menjaga layanan penting tetap berjalan dalam beberapa hari mendatang.

"Kami memiliki sekitar 9.000 metrik ton solar dan 6.000 metrik ton bensin yang tersisa. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mendapatkan stok baru, tetapi kami tidak tahu kapan itu akan terjadi," kata Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera kepada wartawan, Minggu.

Negara pulau itu sedang menghadapi krisis keuangan terburuk dalam tujuh dekade dengan cadangan devisa pada rekor terendah menyulitkan pembayaran komoditas impor penting termasuk bahan bakar, makanan, dan obat-obatan.

Menurut Wijesekera, negaranya kini berjuang menemukan pemasok karena banyak di antara mereka enggan menerima surat kredit (letter of credit) dari bank Sri Lanka.

Disebutkan ada lebih dari 700 juta dolar AS (sekitar Rp10,4 triliun) pembayaran yang telah jatuh tempo, sehingga sekarang pemasok menginginkan pembayaran di muka.

Dalam dua bulan terakhir, Sri Lanka sebagian besar menerima bahan bakar melalui jalur kredit India senilai 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,4 triliun) yang habis pada pertengahan Juni.

Pengiriman bensin yang dijadwalkan Kamis lalu gagal tiba dan belum ada pengiriman baru yang dijadwalkan, kata Wijesekera.

Namun, Sri Lanka juga menerapkan kenaikan harga bahan bakar 12-22 persen pada Minggu dini hari. Kenaikan harga pada Mei mendorong inflasi ke angka 45,3 persen, atau tertinggi sejak 2015.

Orang-orang, yang sudah mengantre di luar stasiun pengisian bahan bakar, tidak mungkin mendapatkan bahan bakar karena pemerintah akan fokus pada pengeluaran sisa stok untuk transportasi umum, pembangkit listrik, dan layanan medis, kata Wijesekera.

Militer, yang telah dikerahkan di stasiun bahan bakar untuk memadamkan kerusuhan, sekarang akan mengeluarkan token kepada mereka yang menunggu, terkadang sampai berhari-hari. Sementara pelabuhan dan bandara akan diberikan jatah bahan bakar, ujar Wijesekera.

Secara terpisah, pemerintah pada Minggu meminta sekitar satu juta pegawai negeri untuk bekerja dari rumah hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Delegasi utama dari Departemen Keuangan dan Luar Negeri AS tiba di Kolombo untuk kunjungan selama tiga hari pada Minggu untuk menilai situasi.

Sebuah tim dari Dana Moneter Internasional sudah berada di Sri Lanka untuk membicarakan kemungkinan paket bailout senilai 3 miliar dolar AS (sekitar Rp44,5 triliun).

Gagal Bayar

Sebelumnya Sri Lanka mengumumkan default atau gagal membayar utang luar negerinya yang sebesar 51 miliar dolar AS. Sejak kemerdekaan pada tahun 1948, Sri Lanka berada dalam cengkraman krisis ekonomi terburuk.

Terjadi kekurangan barang-barang kebutuhan pokok yang parah dan sering terjadi pemadaman listrik. Situasi tersebut telah memicu kemarahan publik, protes terus bergelombang.

Gubernur bank sentral Nandalal Weerasinghe telah meminta warga Sri Lanka yang berada di luar negeri untuk "mendukung negara pada saat yang genting ini dengan menyumbangkan devisa yang sangat dibutuhkan."

Inflasi di Sri Lanka berada dalam titik tertinggi. Harga satu satu paket 400g susu bubuk dilaporkan seharga lebih dari 250 rupee, dari yang sebelumnya sekitar 60 rupee.

Sejak memerdekakan diri dari Inggris tahun 1948, pertanian Sri Lanka didominasi oleh tanaman yang berorientasi ekspor seperti teh, kopi, karet dan rempah-rempah. Hasil devisanya digunakan untuk mengimpor bahan makanan penting.

Karena ketergantunnya pada ekspor, Sri Lanka selalu mengalami berbagai guncangan ekonomi setiap kali volume ekspornya menurun, bahkan menempatkan cadangan devisa di bawah tekanan. Negeri pulau ini sering mengalami krisis neraca pembayaran.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber, Antara

Tags

Terkini

X