• Minggu, 2 Oktober 2022

Rusia Meminta Pasukan Ukraina yang Bertahan di Pabrik Kimia di Sievierodonetsk untuk Meletakkan Senjata

- Rabu, 15 Juni 2022 | 14:53 WIB
Seorang pria menggendong bayinya di tempat berlindung dari bom di pabrik kimia Azot, tempat orang-orang bersembunyi dari serangan Rusia sejak awal perang, di Sievierodonetsk. (ANTARA/Reuters/Marko Djurica/as)
Seorang pria menggendong bayinya di tempat berlindung dari bom di pabrik kimia Azot, tempat orang-orang bersembunyi dari serangan Rusia sejak awal perang, di Sievierodonetsk. (ANTARA/Reuters/Marko Djurica/as)

SINAR HARAPAN - RUSIA meminta pasukan Ukraina yang bertahan di pabrik kimia di Sievierodonetsk untuk meletakkan senjata mulai Rabu pagi, demikian kantor berita Interfax melaporkan.

Para petempur diminta 'menghentikan perlawanan mereka yang sia-sia dan meletakkan senjata' mulai pukul 08.00 waktu Moskow (12.00 WIB), kata Mikhail Mizintsev, Kepala Pusat Manajemen Pertahanan Nasional Rusia

Warga sipil akan diizinkan keluar melalui koridor kemanusiaan, kata Mizintsev menambahkan.

Baca Juga: AS Putar Otak, Pendapatan Rusia Diperkirakan Meningkat Meski Ekspor Minyak Mentahnya Lebih Rendah

Ukraina mengatakan lebih dari 500 warga sipil terjebak di dalam pabrik Azot itu, ketika tentara mereka berusaha menahan serangan.

Pengeboman dan serangan Rusia selama berminggu-minggu telah menghancurkan banyak kawasan di Sievierodonetsk. Serangan di pabrik Azot serupa dengan kejadian sebelumnya di pabrik Azovstal di kota pelabuhan Mariupol bulan lalu.

Ratusan petempur dan warga sipil berlindung dari serangan Rusia di pabrik baja itu. Mereka kemudian menyerah pada pertengahan Mei dan menjadi tawanan Rusia.

Baca Juga: Jembatan yang Jadi Akses Terakhir ke Sievierodonetsk Dihancurkan Rusia, Kota Itu Kini Terisolasi

Serangan di Azot begitu intens sehingga 'orang-orang tak bisa lagi bertahan di tempat perlindungan' dan kondisi psikologis mereka memburuk, kata Gubernur Luhansk Serhiy Gaidai.

Luhansk dan Donetsk adalah dua provinsi di bagian timur yang dikenal dengan sebutan wilayah Donbas. Wilayah itu berusaha direbut oleh Moskow dengan dalih membela kelompok separatis pro-Rusia di sana.

Sievierodonetsk, kota berpenduduk 100 ribu lebih sebelum perang, kini menjadi pusat dari pertempuran yang disebut oleh Moskow sebagai 'the battle of Donbas'.

Baca Juga: Ini Alasan Rusia Dorong Kelompok G8 Baru yang Ikut Sertakan Indonesia, Salah Satunya Indikator Ekonomi

Kiev sebelumnya mengatakan 100-200 tentaranya tewas setiap hari dan ratusan orang lainnya terluka.

Ukraina masih berusaha mengevakuasi warga sipil dari Sievierodonetsk setelah pasukan Rusia menghancurkan jembatan terakhir yang masih berdiri. Jembatan tersebut menghubungkan kota itu dengan kota kembarannya, Lysychansk.

Pasukan Rusia telah membombardir Lysychansk, yang letaknya lebih tinggi di tepi barat sungai Siverskyi Donets.

Baca Juga: Menu Big Mac McD yang Legendaris Hilang! McDonald's di Rusia Dibuka Kembali dengan Nama Baru

Medan-medan pertempuran sudah berganti tangan beberapa kali dalam beberapa pekan terakhir, tetapi para pejabat Ukraina memberi sinyal mereka tak akan mundur.

Namun ketika semua jembatan dari Sievierodonetsk telah hancur, pasukan Ukraina terancam terkepung.

"Kita harus tetap kuat. Makin banyak kerugian di pihak musuh, makin lemah mereka untuk terus meneruskan agresinya," kata Presiden Zelensky dalam pidatonya, Selasa malam.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X