100 Hari Invasi Rusia di Ukraina: Solusi Damai Kian Buram, Donbas Kini Jadi Medan Perang Brutal

- Senin, 6 Juni 2022 | 16:00 WIB
Boneka teddy bear berada di ayunan di sebelah bangunan yang hancur di distrik Saltivka, ditengah serangan Rusia ke Ukraina, di Kharkiv, Ukraina, Selasa (17/5/2022). ( ANTARA FOTO/REUTERS/Ricardo Moraes/RWA/djo)
Boneka teddy bear berada di ayunan di sebelah bangunan yang hancur di distrik Saltivka, ditengah serangan Rusia ke Ukraina, di Kharkiv, Ukraina, Selasa (17/5/2022). ( ANTARA FOTO/REUTERS/Ricardo Moraes/RWA/djo)

SINAR HARAPAN - JUMAT, 3 Juni 2022vpekan lalu invasi Rusia di Ukraina genap 100 hari, tetapi perang belum juga menunjukkan tanda akan berakhir. Justru babak baru yang lebih brutal tengah terjadi di Donbas.

Donbas yang akronim 'Donets Basin' atau Cekungan Donets, adalah kawasan budaya dan ekonomi di Ukraina Tenggara yang meliputi dua oblast atau provinsi: Donetsk dan Luhansk.

Pasukan Ukraina yang beroperasi di Donbas berasal dari kesatuan paling terlatih yang membuat pasukan Rusia maju mundur di Donbas.

Baca Juga: 100 Hari Invasi Rusia, UNHCR Sebut Hampir 7 Juta Orang Mengungsi Keluar Ukraina

Pendulum perang pun mulai condong ke Rusia sejak Moskow memusatkan energi militernya ke bagian timur Ukraina setelah gagal menduduki Kiev dan menggulingkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Namun, jika Rusia berhasil menduduki seluruh Donbas, Presiden Rusia Vladimir Putin diyakini akan mencoba lagi menduduki Kiev dan menggulingkan Zelensky.

Solusi diplomatik sendiri semakin sulit, karena baik Putin maupun Zelensky tak mau mundur sejengkal pun dari sikapnya.

Baca Juga: Putin Mengancam Menyerang Target Baru Jika Ukraina Disuplai AS Rudal Jarak Jauh

Mereka berusaha menciptakan supremasi teritorial secara militer sehingga skala perang tak kunjung mengecil.

Ukraina memiliki alasan yang bisa dipahami semua negara berdaulat bahwa mereka akan bertempur sampai titik darah penghabisan karena perang ini menyangkut kemerdekaan, kedaulatan dan integritas teritorialnya.

Sementara Putin tak ingin ada pihak yang menyimpulkan Rusia kalah, karena jika ini yang terjadi, sama artinya dengan menciptakan situasi di mana semua tetangga Rusia dan rakyat Federasi Rusia beranggapan Putin tak kompeten sehingga tak perlu lagi digubris.

Baca Juga: Rusia Kuasai Kota Industri Sievierodonetsk, Biden Umumkan Paket Senjata untuk Ukraina Senilai Rp10,1 Triliun

Alhasil, Rusia dan Ukraina pun mengerahkan sumber dayanya, sembari saling mengukur daya tahan militer dan ekonomi masing-masing.

Dari perspektif ekonomi, Rusia tetap teguh sekalipun dihantam sanksi Barat yang amat keras, sampai harian terkemuka Inggris The Guardian menyimpulkan Rusia telah memenangkan perang ekonomi terkait invasi di Ukraina.

Tiga bulan sejak Rusia pertama kali dijatuhi sanksi begitu menginvasi Ukraina pada 24 Februari, ekonomi Rusia tak begitu terusik, sebaliknya tetap bisa mengongkosi perang di Ukraina.

Baca Juga: Rusia Angkut 2.500 Ton Baja dari Kota Mariupol, Ukraina Sebut Sama dengan Penjarahan

Tingkat inflasi Rusia tetap terkendali, kendati ditempuh secara artifisial karena hampir sepenuhnya akibat intervensi negara, bukan hasil mekanisme pasar.

Pun demikian dengan kurs mata uang, cadangan devisa, dan kemampuan membayar utang luar negeri dan menyelesaikan surat utang.

Sebaliknya sanksi ekonomi membuat harga komoditas ekspor utama Rusia seperti minyak dan gas membumbung tinggi.

Baca Juga: Pemimpin Uni Eropa Tak Sudi Impor dari Rusia, Minyak Mentah Naik di Asia

Ini membuat Rusia justru mengalami surplus transaksi berjalan pada empat bulan pertama 2022 mencapai 96 miliar dolar AS yang jauh di atas periode sama setahun sebelumnya.

Dihadapkan kepada kenyataan ini, Barat pun kian gencar melancarkan ofensif di dua matra; bantuan militer dan perluasan sanksi ekonomi. Mereka kini sepakat mengembargo minyak Rusia serta mengirimkan wahana perang tercanggihnya ke Ukraina.

Embargo minyak itu mencakup pengiriman minyak Rusia dari laut yang mencapai 2/3 ekspor minyak Rusia untuk Uni Eropa.

Baca Juga: Mulai Hari Ini Gazprom Rusia Hentikan Pasokan Gas ke GasTerra Belanda

Tapi itu tak termasuk pengiriman minyak lewat jaringan pipa yang melewati Polandia, Jerman, Hungaria, Slovakia dan Republik Ceko.

Meski begitu, Polandia dan Jerman telah bersumpah untuk tak lagi menggunakan minyak Rusia.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X