• Sabtu, 20 Agustus 2022

Pertemuan GPDRR Ditutup, Menghasilkan 'Bali Agenda for Resilience'

Banjar Chaeruddin
- Sabtu, 28 Mei 2022 | 07:15 WIB
State Secretary and Deputy Director-General, Swiss Agency for Development and Cooperation, Federal Department of Foreign Affairs Manuel Bessler memberikan sambutan dalam penutupan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/5/2022). GPDRR 2022 berlangsung pa
State Secretary and Deputy Director-General, Swiss Agency for Development and Cooperation, Federal Department of Foreign Affairs Manuel Bessler memberikan sambutan dalam penutupan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/5/2022). GPDRR 2022 berlangsung pa

SINARHARAPAN--Konferensi PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (GPDRR) di Bali pada rsmi ditutup dengan menghasilkan dokumen "Bali Agenda for Resilience" untuk mencegah dunia dari resiko bencana lebih besar.

"Lebih banyak negara harus berpikir tentang ketahanan, dan segera mengadopsi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko dari meningkatnya jumlah bencana di seluruh dunia," menurut kesimpulan dari forum PBB tersebut.

Selama enam hari, sekitar 184 negara berkumpul di Bali untuk meninjau upaya melindungi masyarakat dari peningkatan bahaya akibat perubahan iklim dan bencana lainnya di seluruh dunia.

GPDRR 2022 mencatat hanya 95 negara yang dilaporkan memiliki sistem peringatan dini multibahaya yang memberikan pemberitahuan kepada pemerintah, lembaga, dan masyarakat umum tentang bencana yang akan datang, dengan cakupan yang sangat rendah di Afrika, sejumlah negara tertinggal, dan negara-negara berkembang kepulauan kecil.

Laporan Penilaian Global PBB tentang Pengurangan Risiko Bencana (GAR) menyebut sistem peringatan dini sebagai pertahanan kritis terhadap bencana, seperti banjir, kekeringan, dan letusan gunung berapi.

Laporan itu memperkirakan kemungkinan adanya 560 bencana dalam tahun 2030 atau sekitar 1,5 bencana per hari.

Laporan itu disampaikan setelah Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan pentingnya sistem peringatan untuk meliputi setiap orang di dunia dalam waktu lima tahun.

"Sistem peringatan dini harus mencakup komunitas yang paling berisiko dengan kapasitas kelembagaan, keuangan, dan manusia yang memadai untuk bertindak atas peringatan dini bencana," kata dokumen hasil GPDRR 2022, yang dikenal sebagai Agenda Bali untuk Ketahanan (Bali Agenda for Resilience).

Agenda Bali untuk Ketahanan, muncul menjelang Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana 2022 pada 13 Oktober yang didedikasikan untuk sistem peringatan dini bencana.

Mengingat pandemi, Agenda Bali menyoroti perlunya untuk kembali mengevaluasi cara-cara untuk mengatur risiko bencana dan rancangan kebijakan terkait penanganan bencana serta jenis pengaturan kelembagaan yang perlu dilakukan di tingkat global, regional, dan nasional.

"Pendekatan saat ini untuk pemulihan dan rekonstruksi (bencana) tidak cukup efektif dalam melindungi hasil pembangunan maupun dalam pembangunan kembali yang lebih baik, lebih hijau dan lebih adil," demikian disampaikan dalam dokumen hasil GPDRR 2022 tersebut.

Ada peningkatan 33 persen jumlah negara yang sekarang mengembangkan strategi pengurangan risiko bencana dan pelaporan melalui Sendai Framework Monitor, yang mengukur kemajuan menuju target pengurangan risiko bencana global.

Agenda Bali untuk Ketahanan akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB 2022 (COP27), perhelatan G20 dan kegiatan Tinjauan Jangka Menengah (Mid-Term Review) Kerangka Sendai.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Antara

Tags

Terkini

X