• Minggu, 26 Juni 2022

Pertanian dan Pabrik Tetap Beroperasi di Tengah Wabah, Korea Utara Klaim Berhasil Perangi Wabah COVID 19

- Jumat, 20 Mei 2022 | 15:20 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memimpin pertemuan Partai Pekerja tentang respons terhadap wabah COVID-19 dalam foto tak bertanggal yang dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 12 Mei 2022. (ANTARA/KCNA via Reuters/as)
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memimpin pertemuan Partai Pekerja tentang respons terhadap wabah COVID-19 dalam foto tak bertanggal yang dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 12 Mei 2022. (ANTARA/KCNA via Reuters/as)

SINAR HARAPAN - KOREA Utara mengatakan pada Jumat, 19 Mei 2022 bahwa pihaknya mencapai 'hasil bagus' dalam memerangi wabah COVID 19 yang pertama dialami negara tersebut.

Sementara itu, jumlah warga yang mengalami gejala demam telah melebihi dua juta orang.

Negara yang terkucil itu melaporkan ada 263.370 orang lagi yang memperlihatkan gejala demam sehingga jumlah keseluruhan kasus demam hingga Kamis petang mencapai 2,24 juta, kata kantor berita pemerintah, KCNA.

Baca Juga: 1,4 Juta Kasus 'Demam' Dilaporkan, Korea Utara Dibayangi Ancaman Wabah COVID 19

KCNA juga melaporkan bahwa dua orang meninggal sehingga jumlah total kematian hingga Kamis petang tercatat 65 orang.

Korut mengatakan bahwa, kendati ada peningkatan kasus, kegiatan pertanian terus berlangsung, pabrik-pabrik tetap beroperasi. Pemerintah juga tetap berencana menggelar upacara pemakamam seorang mantan jenderal.

"Walaupun ada situasi pencegahan epidemi darurat maksimum, produksi di sektor-sektor industri utama tetap berjalan normal dan proyek-proyek konstruksi skala besar terus digenjot," kata KCNA.

Baca Juga: Korea Utara Laporkan 21 Kematian Baru di Tengah Wabah COVID 19, Disebut Kim Jong Un 'Kekacauan Dahsyat'

"Hasil baik terus dilaporkan dalam perang yang sedang berlangsung melawan epidemi," kata KCNA, menambahkan.

Peningkatan kasus dan kurangnya sumber daya medis serta vaksin di Korea Utara membuat badan hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan soal kemungkinan dampak yang 'menghancurkan' bagi 25 juta penduduk negara itu.

Para petinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengkhawatirkan keadaan bahwa penyebaran COVID 19 yang tidak terawasi bisa meningkatkan keberadaan varian-varian baru yang lebih mematikan.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X