• Minggu, 2 Oktober 2022

Bukan Hanya Gara-gara Minum Alkohol, Ini Faktor Penyebab Kanker Hati

- Selasa, 22 Maret 2022 | 13:59 WIB
Ilustrasi pasien kanker. (Vecteezy)
Ilustrasi pasien kanker. (Vecteezy)

SINAR HARAPAN - BERLAWANAN dengan kepercayaan yang ada di masyarakat, kanker hati disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya konsumsi alkohol yang berlebih.

Kanker ini bisa terjadi akibat akumulasi penumpukan lemak di hati yang berhubungan erat dengan obesitas dan diabetes. Pada dasarnya kanker hati dibagi menjadi dua macam yaitu kanker hati primer dan kanker hati metastasis.

Kanker hati primer merupakan kanker yang terjadi dari sel-sel hati yang normal berubah menjadi sel-sel abnormal sementara kanker hati metastatis yaitu kanker hati yang berasal dari penyebaran kanker dari organ lain seperti usus besar, paru-paru atau payudara. Kanker hati primer yang terbanyak adalah hepatocellular carcinoma (HCC).

Baca Juga: Lynparza Produksi AstraZeneca-Merck Disetujui FDA untuk Obati Kanker Payudara

Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2020 mencatat kanker hati merupakan salah satu dari empat penyebab kematian akibat kanker paling banyak di Indonesia.

Dokter Hendra Nurjadin, SpPD, KGEH – Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Mayapada Hospital Tangerang dalam siaran pers pada Selasa menjelaskan bahwa sirosis hati tidak hanya disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebih, pada banyak kasus yang ditemukan sirosis disebabkan oleh penyakit hati yang tidak berhubungan dengan alkohol atau disebut Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH) yaitu terjadinya penumpukan lemak di hati, yang berhubungan dengan obesitas, sindrom metabolik dan diabetes.

"Infeksi hepatitis B dan C yang banyak terjadi di Indonesia juga merupakan penyebab banyaknya sirosis hati yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kasus kanker hati, dimana sebenarnya hepatitis B ini dapat dicegah dengan vaksinasi dan hepatitis C dapat dengan mudah diobati, cukup hanya 3 bulan saja dengan obat-obatan anti virus yg baru," kata dr. Hendra.

Baca Juga: Anak dengan Kanker Butuh Pendampingan dan Perawatan Intensif

Seperti kasus kanker yang lainnya, terdiagnosis sejak dini adalah kunci utama penanganan kanker hati. Pilihan terapi kanker hati bergantung pada stadium kanker hati. Semakin kecil ukuran tumor dan semakin rendah stadium kanker, serta fungsi hati dan kondisi kesehatan yang baik, maka kanker hati dapat dioperasi.

Di Indonesia, banyak pasien datang terlambat berobat kanker hati, karena selain tidak melakukan medical check-up secara berkala, pasien juga sering datang terlambat karena menduga hanya mengeluh sakit maag dan mengobatinya dengan hanya menjalani pengobatan maag.

"Setelah penyakit menjadi berat dan keluhan menjadi semakin nyata seperti nyeri pada perut, perut membesar, mudah memar dan perdarahan, kulit dan mata menguning, serta penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, barulah pasien datang, padahal pasien datang dalam kondisi sudah stadium lanjut," kata Prof. Dr. Abdul Aziz Rani, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Baca Juga: Perdarahan Terus-menerus, Benarkah Pertanda Kanker Serviks?

Untuk menentukan apakah suatu kanker hati memenuhi syarat untuk operasi reseksi hati, perlu dilakukan pertimbangan beban tumor, fungsi hati pasien, luasnya jaringan hati yang dipotong dan volume sisa hati yang diharapkan di masa depan, serta adanya tidaknya hipertensi portal dan komorbiditas dari pasien.

Untuk itu diperlukan penilaian kondisi kesehatan pasien yang detail dan komprehensif sebelum dilakukannya penanganan tumor hati.

"Pilihan terapi lainnya bagi pasien yang tidak dapat dilakukan reseksi atau pengangkatan tumor antara lain adalah transplantasi hati, terapi ablasi, terapi embolisasi serta sistemik. Sementara itu, pada pasien stadium terminal, perawatan yang diberikan adalah best supportive care yaitu perawatan suportif untuk mendukung kesehatan pasien yang terdiri dari perawatan paliatif yang tepat tanpa terapi antikanker lainnya," kata dr. Agung Sumastoro, Sp.B-KBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Kuningan.

Baca Juga: 5 Tanaman Alami untuk Mengobati Kanker Prostat

Untuk mengurangi risiko kanker hati mulailah menjaga berat badan yang sehat dan ideal, lakukan vaksinasi terhadap Hepatitis B, lakukan tes Hepatitis C, jangan merokok, atau berhenti jika Anda melakukannya, hindari minum terlalu banyak alkohol.

Serta jangan lupa rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, kata dr. Dion Ade Putra, Sp.B-KBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Tangerang.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X