• Selasa, 29 November 2022

Tak Bisa Lupakan Agresi Militer Sekutu yang Membunuh Anak-anak, Serbia: Kami Tak Akan Bergabung ke NATO

- Selasa, 22 Maret 2022 | 09:17 WIB
Presiden Serbia Aleksandar Vucic. (Facebook.com/Aleksandar Vucic.)
Presiden Serbia Aleksandar Vucic. (Facebook.com/Aleksandar Vucic.)

SINAR HARAPAN - SERBIA menyatakan tidak akan bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) karena tidak dapat melupakan anak-anak yang terbunuh selama agresi NATO terhadap Serbia pada 1999, Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengatakan pada rapat umum pemilihan di Kikinda pada hari Senin, 21 Maret 2022 seperti dilansir dari TASS.

"Saya percaya bahwa Serbia tidak boleh bergabung dengan NATO. Serbia adalah negara bebas dan negara yang netral secara militer. Serbia akan mempertahankan tanah dan langitnya sendiri. Tapi izinkan saya memberi tahu Anda sesuatu: tugas kita adalah memaafkan dan tugas kita adalah tak melupakan," ujarnya.

"Jangan lupakan Bojana Tosic yang berusia 11 bulan, terbunuh di Merdare, dekat Kursumlija, jangan lupakan Milica Rakic ​​kecil, terbunuh di Batajnica, dan jangan lupakan Sanja Milenkovic kecil, terbunuh di Varvarin. Kami tidak berhak untuk melupakan ini. Kami akan menjadi jauh lebih kuat daripada saat itu, ketika orang-orang yang tidak bertanggung jawab, arogan, dan lancang mengebom dan mengobarkan perang agresi terhadap kami dan negara kami," kata Vucic.

Baca Juga: Biden: AS Tak Berperang Lawan Rusia di Ukraina Tapi Akan Pertahankan Wilayah NATO

Agresi NATO terhadap Yugoslavia pada tahun 1999 berlangsung selama 78 hari. Pimpinan NATO berpendapat bahwa alasan utama untuk operasi dengan nama sandi Pasukan Sekutu adalah untuk mencegah genosida terhadap orang-orang Albania di Kosovo. Menurut sumber NATO, pesawat sekutu menerbangkan 38.000 serangan dan membawa 10.000 serangan bom.

Pengeboman itu menewaskan, menurut perkiraan yang berbeda, 3.500-4.000 orang, dan menyebabkan sekitar 10.000 orang lainnya (dua pertiga dari jumlah ini adalah warga sipil) terluka. Kerugian material mencapai USD100 miliar atau sekitar Rp1.430 triliun.

Selama tiga bulan pengeboman, pasukan NATO menjatuhkan 15 ton uranium terdeplesi ke Serbia dalam bentuk bom dan peluru. Akibat serangan ini, angka penderita kanker di negara itu melonjak ke peringkat pertama di Eropa. Dalam sepuluh tahun pertama setelah pengeboman, sekitar 30.000 orang terkena kanker dan diperkirakan 10.000-18.000 di antaranya meninggal.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: TASS

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X