Rangkuman Penelitian Terbaru Tentang COVID-19

- Rabu, 9 Maret 2022 | 15:43 WIB
Rangkuman penelitian terbaru tentang COVID-19. (Unsplash.)
Rangkuman penelitian terbaru tentang COVID-19. (Unsplash.)

SINAR HARAPAN - BERIKUT rangkuman beberapa penelitian terbaru tentang COVID-19, khususnya varian omicron seperti yang dilansir dari Reuters

Hasil dalam daftar ini termasuk penelitian-penelitian yang memerlukan studi lebih lanjut untuk menguatkan temuan dan termasuk hasil penelitian yang belum disertifikasi oleh peer review.

Pertama, infeksi omicron menular setidaknya selama 6 hari. Pasien yang terinfeksi varian Omicron dari SARS-CoV-2 tetap menular dalam durasi yang sama dengan infeksi varian sebelumnya, menurut sebuah penelitian kecil.

Baca Juga: Subvarian Omicron BA.2 Lebih Menular Tetapi Tidak Lebih Parah

Para peneliti mengambil sampel darah dari 56 pasien yang baru didiagnosis, termasuk 37 sampel dengan infeksi delta dan 19 dengan infeksi omicron. Semuanya sakit ringan, seperti dengan gejala mirip flu, tetapi tidak ada yang dirawat di rumah sakit.

Terlepas dari varian mana atau apakah mereka telah divaksinasi, mendapat booster atau tidak, peserta penelitian "menularkan virus hidup, rata-rata, sekitar 6 hari setelah gejala (mulai), dan... sekitar satu dari empat orang melepaskan virus hidup selama lebih dari 8 hari," kata Dr. Amy Barczak dari Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, yang ikut menulis laporan yang diposting di medRxiv sebelum ditinjau sejawat.

"Meskipun tidak diketahui secara pasti berapa banyak virus hidup yang diperlukan untuk menyebarkan penyakit ini ke orang lain, kami mengambil data ini untuk menunjukkan bahwa orang dengan infeksi COVID-19 ringan dapat menularkan rata-rata selama 6 hari, dan terkadang lebih lama," kata Barczak.

Baca Juga: Pakar: Risiko Kematian Wabah Omicron Ancam Berbagai Umur

"Keputusan tentang isolasi dan karantina harus mempertimbangkan informasi tersebut, terlepas dari varian atau status vaksinasi sebelumnya."

Kedua, obat angioedema dari Takeda menunjukkan harapan sebagai obat COVID-19. Obat yang digunakan untuk mengobati kondisi pembuluh darah yang disebut angioedema telah menunjukkan harapan sebagai pengobatan untuk COVID-19 dalam percobaan laboratorium, kata para peneliti.

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X