• Senin, 15 Agustus 2022

COVAX Kurangi Jatah Vaksin untuk Korut

- Kamis, 10 Februari 2022 | 17:42 WIB
Arsip - Diplomat Rusia dan keluarganya menggunakan kereta lori yang digerakkan secara manual melintasi garis demarkasi antara Rusia - Korea Utara saat meninggalkan Korea Utara terkait pandemi COVID-19, Kamis (25/2/2021).
Arsip - Diplomat Rusia dan keluarganya menggunakan kereta lori yang digerakkan secara manual melintasi garis demarkasi antara Rusia - Korea Utara saat meninggalkan Korea Utara terkait pandemi COVID-19, Kamis (25/2/2021).

JAKARTA - Program berbagi vaksin global COVAX mengurangi jatah vaksin yang dialokasikan untuk Korea Utara, karena negara itu sejauh ini gagal mengatur pengiriman vaksin COVID-19. Berdasarkan situs yang dikelola Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), vaksin yang dialokasikan untuk Korut saat ini 1,54 juta dosis atau turun dari jumlah tahun lalu yaitu 8,11 juta dosis.

Menurut Aliansi Vaksin Gavi yang membantu menjalankan distribusi vaksin, tahun ini COVAX mulai mengalokasikan vaksin berdasarkan kebutuhan, sehingga akumulasi dosis yang sebelumnya dialokasikan ke Korut tidak lagi relevan.

"Vaksin dialokasikan ke (Korea Utara) dengan pertimbangan teknis untuk memungkinkan negara tersebut mengejar target imunisasi internasional pada 2022 jika pemerintah memutuskan untuk memperkenalkan imunisasi COVID-19 sebagai bagian dari respons pandemi nasional," kata juru bicara Gavi dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, Kamis.

Tidak diketahui apakah Korut telah mengimpor vaksin COVID-19, meskipun media melaporkan beberapa orang penting seperti pejabat kontrol perbatasan, mungkin telah divaksin.

Tahun lalu Korut menolak rencana pengiriman vaksin AstraZeneca oleh COVAX karena kekhawatiran akan efek samping, kata sebuah lembaga pemikir Korea Selatan saat itu. Pyongyang juga menolak tawaran 3 juta dosis vaksin COVID-19 dari Sinovac Biotech China, kata UNICEF tahun lalu.

"Gavi dan COVAX melanjutkan dialog dengan (Korea Utara) untuk mengoperasionalkan program imunisasi COVID-19," kata juru bicara Gavi. Korut belum secara resmi mengonfirmasi satu pun infeksi virus corona, meskipun para pejabat di Korsel dan Amerika Serikat meragukan bahwa negara itu bebas dari COVID.

Korut adalah salah satu negara pertama yang menutup perbatasan ketika pandemi mulai menyebar pada 2020, dan baru bulan lalu mulai mengizinkan beberapa kereta melintasi perbatasan dengan China. Parlemen Korut menyetujui peningkatan 33,3 persen anggaran belanja untuk mengatasi pandemi tahun ini, menurut laporan media pemerintah pada Selasa (8/2).

"Pekerjaan pencegahan epidemi darurat akan menjadi prioritas utama (Komisi) Urusan Negara dan tembok pencegahan epidemi akan lebih diintensifkan," kata Perdana Menteri Korut Kim Tok Hun dalam pidatonya. (E-4)

Editor: editor4

Tags

Terkini

X