ASEAN dan 5 Negara Mitra Tandatangani RCEP

- Minggu, 15 November 2020 | 20:44 WIB
Menlu Retno P Marsudi
Menlu Retno P Marsudi

JAKARTA--Setelah memakan waktu negosiasi selama delapan tahun, ASEAN dan lima negara mitra resmi menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP keempat, Minggu (15/11).

Penandatangan RCEP yang dilaksanakan di sela-sela KTT ke-37 ASEAN itu, disebut-sebut sebagai kesepakatan perdagangan bebas terbesar di dunia.

RCEP mencakup 10 ekonomi Asia Tenggara bersama dengan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru dan Australia, dengan anggota yang menyumbang sekitar 30 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) global.

Penandatanganan RCEP dilakukan tanpa India yang telah menarik diri dari negosiasi pada tahun lalu, karena adanya kekhawatiran tentang produk-produk murah Tiongkok yang memasuki negara itu. Meski tanpa India, kesepakatan itu meliputi sekitar dua miliar penduduk.

Indonesia merupakan inisiator RCEP ketika menjadi Ketua ASEAN pada 2011, dengan harapan RCEP akan menciptakan kondisi kondusif dan kompetitif bagi ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, RCEP memberikan harapan dan optimisme baru bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi. “Dalam pertemuan RCEP presiden menyampaikan proses perundingan bukan hal yang mudah sejak keketuaan Indonesia 2011 dan membutuhkan waktu hampir satu dekade. Penandatanganan ini menandai masih kuatnya komitmen kita terhadap multilateralisme. Ini juga menandai komitmen kita terhadap prinsip-prinsip perdagangan multilateral yang terbuka, adil dan menguntungkan semua. RCEP memberikan harapan dan optimisme baru bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi,” ungkap Retno Marsudi dalam press briefing usai KTT ke – 37 ASEAN dan KTT terkait lainnya, Minggu (15/11).

Bagi Indonesia diperlukan adanya komitmen politik pada tingkat tertinggi untuk mendukung implementasi setelah penandatanganan RCEP. Indonesia berpandangan RCEP merupakan komtimen penting sentralitas ASEAN di kawasan Indo-Pasifik,” jelas Retno lagi.

Dikatakan Retno, Indonesia tetap membuka peluang bagi negara lain di kawasan untuk bergabung ke dalam RCEP. “Bagi Indonesia, kita masih membuka peluang negara di kawasan untuk bergabung ke dalam RCEP,” terangnya.

Menguntungkan China

RCEP dinilai dapat memperkuat posisi China sebagai mitra ekonomi dengan Asia Tenggara, Jepang dan Korea Selatan. Hal itu menempatkan China dalam posisi yang lebih baik untuk membentuk aturan perdagangan kawasan.

Dikutip dari Antara, Amerika Serikat di bawah Donald Trump absen dari RCEP dan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang dipimpin Barack Obama. Hal itu membuat AS tidak ikut serta dalam dua kelompok perdagangan yang menjangkau wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sebaliknya, RCEP dapat membantu Beijing mengurangi ketergantungannya pada pasar dan teknologi luar negeri, pergeseran yang dipercepat oleh keretakan yang semakin dalam dengan Washington, kata Iris Pang, kepala ekonom ING untuk China dan wilayahnya.

Pada tahun-tahun mendatang, RCEP bertujuan untuk menurunkan tarif secara progresif di banyak area. Kesepakatan itu ditandatangani di sela-sela KTT ASEAN yang diadakan secara daring ketika para pemimpin Asia mengatasi ketegangan di Laut China Selatan dan menangani rencana pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 di kawasan di mana persaingan AS-China telah meningkat.

RCEP akan menyumbang 30 persen dari ekonomi global, 30 persen dari populasi global dan mencapai 2,2 miliar konsumen, kata tuan rumah KTT ASEAN 2020, Vietnam, pada Minggu.

Halaman:

Editor: editor1

Tags

Terkini

X