• Sabtu, 3 Desember 2022

Wonosari Riwayatmu Dulu?

- Selasa, 25 Januari 2022 | 09:54 WIB
Marzuki Usman
Marzuki Usman

PADA pagi hari Senin, tanggal 10 Januari 2022, penulis terbang ke Yogyakarta, dan lalu bermalam dua malam di Kota Gudeg Indonesia, memenuhi tugas sebagai Ketua Umum (Ketum) dari Pengurus Besar Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PB-PWRI).

Sebagai kunjungan kerjanya, Ketum memberikan wejangan dan pengarahan supaya PWRI ini berkiprah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga para anggotanya yang adalah para pensiunan Aparat Sipil Negara (ASN), dahulu istilahnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Republik Indonesia.

Para penggiat dan anggota PWRI di-DIY, bermimpi berat sekali yakni ingin menikmati sebagai anggota PWRI, yang hidupnya bahagia dan kaya!.

Penulis di dalam ceramahnya, antara lain menyampaikan kepada anggota PWRI - DIY - yang hadir pada acara itu, “Hendaklah : Pertama, mensyukuri keberadaan PWRI itu sebagai Rejeki dari Allah Yang Maha Esa. Kedua, marilah bercita-cita, “Para Anggota dan para Penggiat PWRI - DIY, akan hidup berbahagia dan kaya!”

Penulis menyampaikan lagi kepada : para Penggiat dan Anggota PWRI, supaya berani punya mimpi untuk diri sendiri dan seluruh anggota PWRI, yakni, “Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah contoh sukses dari Usaha Ekonomi Hijau (Green Economy) yang dicanangkan pada tahun 1960-an, sampai tahun 1970-an, melalui Inpres Penghijauan, yang telah berhasil merubah wajah Daerah Gunung Kidul, Wonosari dari tanah yang tandus, berbatu-batuan, miskin pohon, rumah penduduknya kebanyakan berdinding Bambu (Gedeg), kendaraan bermotor, sepeda motor dan mobil jarang sekali kelihatan di jalan.

Penulis sampaikan kepada para anggota pertemuan, Kunjungan Kerja itu yang juga dihadiri oleh Bapak Bupati Kabupaten Gunung Kidul, bahwa Wajah Gunung Kidul telah berubah total, dari Daerah Miskin, Tandus dan penduduknya lagi mengidap penyakit Kurang Makan (Hungor Hudim).

Dan pada waktu itu, penulis menyaksikan sebagai berikut : 1. Pohon sudah pada menghijau, 2. Desanya sudah menjadi tanah yang subur, 3. Rumah berdinding bambu (gedeg), tidak ada lagi penulis jumpai, 4. Sepeda motor dan mobil sekarang pada berjejer di jalan-jalan, dan parkir di tepi jalan, dan di pekarangan rumah-rumah penduduk, 5. Dan jalan sudah mulai macet.

Penulis usul kepada Bapak Bupati supaya di cari lagi photo-photo Gunung Kidul pada tahun 1960-an, dan tahun 1970-an itu.

Yakni situasinya yang serba miskin, supaya sandingkan dengan keadaan Gunung Kidul sekarang, yang semua sudah serba hijau royo-royo, kaya dan makmur.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Tokoh Pers di Balik Sumpah Pemuda

Jumat, 28 Oktober 2022 | 09:12 WIB

Temuan Komnas HAM atas Tragedi Kanjuruhan

Jumat, 14 Oktober 2022 | 10:39 WIB

Ini Sosok 6 Tersangka Tragedi Kanjuruhan Malang

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:02 WIB

Tragedi Sepak Bola di Stadion Kanjuruhan

Selasa, 4 Oktober 2022 | 06:19 WIB

Ini Lima Pebalap Anyar MotoGP 2022

Senin, 28 Februari 2022 | 09:23 WIB

Infografik: Fenomena Hujan Es di Indonesia

Minggu, 27 Februari 2022 | 06:50 WIB

Wonosari Riwayatmu Dulu?

Selasa, 25 Januari 2022 | 09:54 WIB

Infografik: Omicron Bikin Buyar Liga Inggris

Minggu, 26 Desember 2021 | 06:22 WIB

Singapura Vs Indonesia: Waspada Tuah Tuan Rumah!

Rabu, 22 Desember 2021 | 06:36 WIB

Infografik: Varian Omicron di Indonesia

Sabtu, 18 Desember 2021 | 07:59 WIB

Infografik: Hasil Undian Babak 16 Besar Liga Champions

Jumat, 17 Desember 2021 | 06:22 WIB

Infografis: Max Verstappen Sang Penakluk

Rabu, 15 Desember 2021 | 06:35 WIB

Infografis: Semeru Masih Waspada

Selasa, 14 Desember 2021 | 10:36 WIB
X