Ngabalin: Usul Pelantikan Maju dari Projo, Bukan Jokowi

Minggu , 29 September 2019 | 11:07
Ngabalin: Usul Pelantikan Maju dari Projo, Bukan Jokowi
Sumber Foto Dok/Ist
Ali Mochtar Ngabalin

JAKARTA - Ali Mochtar Ngabalin membantah Presiden Joko Widodo meminta pelantikan maju sehari lebih cepat menjadi 19 Oktober 2019. Diperlukan pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 permohonan pada 20 Oktober 2019.

Ngabalin mengatakan Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menyusun acara silaturahmi Jokowi dengan kontribusi pegiat Projo di Istana, Jumat (27/9/2019)."Di dalam pertemuan itu di antara mereka, diajak bicara, di panggil, di depan, di luar, di, di, di, ganggu, di sebelah kanan," kata Ngabalin, Minggu (29/9/2019).

Menurut Ngabalin, Jokowi hanya dapat tersenyum mengingatnya. Ia memutuskan bahwa Jokowi akan tetap mengikuti Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan pelantikan pada 20 Oktober.

"Presiden senyum saja, kemudian mengatakan 'Oh ya, bagus juga idenya'. Tapi Pak Jokowi kan sosok yang selalu taat asas, aturan-undangan undangan, kan sudah ada regulasinya, kontak, tanggalnya, tidak sembarangan," katanya seperti dikutip cnnindonesia.com.

KPU sebelumnya memutuskan, pelantikan presiden dan wakil presiden akan tetap digelar 20 Oktober 2019. Pasalnya, masa jabatan presiden telah ditentukan dalam waktu tertentu. Hampir 20 Oktober. Hal itu sudah dilakukan sejak pilpres dan pelantikan presiden 20 Oktober 2004.

Usulan agar pelepasan maju pertama kali disampaikan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi. Ia menyebut Jokowi ingin maju karena hari baik dan jatuh pada hari Sabtu.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load