Demokrat Adukan Asia Sentinel ke Dewan Pers

Senin , 17 September 2018 | 13:25
Demokrat Adukan Asia Sentinel ke Dewan Pers
Sumber Foto satryo yudhantoko
Hinca Pandjaitan ketika menyerahkan pengadukan ke Dewan Pers.

JAKARTA - Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengatakan, pihaknya telah melakukan penelusuran tentang perusahaan portal berita Asia Sentinel. Hasilnya, hanya ditemukan alamat IP Address dan Email editor redaksi. Namun tidak diketahui legalitas perusahaan pers yang mengangkat berita tentang keterlibatan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait kasus Bank Century.

"Kita terus mengejar dari apa yang ada di box redaksinya tersebut. Kalau dewan pers ketahuan alamatnya kebon sirih cukup mudah kita cari. Tapi kalau dia hanya Hongkong saja, waktu dia bikinkan IP Addressnya," ujar Hinca saat memaparkan laporannya ke Dewan Pers, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018).

Ia melanjutkan bahwa di box redaksinya hanya terdapat alamat email redaksi Asia Sentinel yang disebut support contact, subscriber@asiasentinel.com. "Kami coba berkomunikasi tidak juga nyambung. Barulah setelah beberapa hari kemudian dia mulai muncul dalam pemberitaan lain pada tanggal 15 september 2018 jam 23:00 dengan judul "Asia Sentinel Story of Indonesian's Coruption Goods Viral," dia menjelaskan.

Ia menduga, Asia Sentinel dengan sengaja menampilkan pemberitaan yang tidak bisa disebut karya jurnalistik. "Jadi saya pikir orang satu ini niatnya bukan lagi soal berita investigatifnya itu. Ia hanya mau bilang, "sudah viral beritaku yang tak benar itu". Jadi pertanyaannya, mau kemana kami mengadu kalau yang kita cari nyata tidak nyata," dia menambahkan.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar berjanji akan menelusuri keberadaan perusahaan pers Asia Sentinel itu. "Asia sentinel ini, kalaupun misalnya kami bekerjasama dengan dewan pers Hongkong apakah mereka mau dipanggil, biasanyakan kalau teradu itu dipanggil. Nanti kita cek. Tapi memang kemungkinannya kecil. Tapi kalau ada perwakilannya di sini bisa kita panggil. Tapi tadi faktanya disebutkan keberadaannya tidak jelas," katanya.(ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load